Mengenal Tuva, Desa di Sigi yang Aman dan Ekonominya Maju Berkat Telkomsel

SALAH satu BTS Telkomsel yang berdiri kokoh di Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. FOTO: ICHAL

Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten daerah otonomi baru di Provinsi Sulawesi Tengah yang ibukotanya adalah Bora berada di Kecamatan Sigi Biromaru. Kabupaten Sigi ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2008 yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Donggala.

Sebagai kabupaten baru yang memiliki ratusan desa tersebar di 15 kecamatan, tentunya masih banyak infrastruktur perlu dibangun untuk melayani masyarakat di wilayahnya, salah satunya adalah masalah jaringan telekomunikasi seluler.

LAPORAN: APRISAL

Adalah Desa Tuva, salah satu desa di Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang masyarakatnya baru beberapa bulan ini menikmati jaringan Telkomsel.

Letak Desa Tuva berjarak sekitar 52 kilometer dari arah selatan Kota Palu, pusat ibukota Provinsi Sulawesi Tengah dan dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama sejam lebih.

Desa Tuva merupakan desa terakhir dari tujuh desa di Kecamatan Gumbasa, dan berbatasan langsung dengan Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Sigi.

Nama Tuva diambil dari kata bahasa Suku Kaili yang berarti racun.

Sebelum menjadi Desa Tuva, dulu kampung ini bernama Desa Sinduru.

Konon dahulu kala di kampung ini ada beberapa makhluk gaib semacam tuyul atau biasa dikenal di masyarakat setempat dengan sebutan tauta.

Sekelompok tauta ini tinggal di sebuah sumur yang lokasinya agak jauh dari pemukiman warga desa setempat.

Munculnya tauta di kampung Tuva menimbulkan kecemburuan sosial dari beberapa desa yang lain.

Betapa tidak, hanya dengan membawa sesajian untuk diberikan kepada tauta pada malam hari, paginya lahan perkebunan dan pertanian milik warga bersangkutan tiba-tiba saja menjadi bersih dan subur serta panennya berlimpah.

Praktis hanya dengan mengandalkan tauta, beberapa warga setempat pun menjadi enggan untuk bekerja.

Singkat cerita, sumur sebagai tempat tinggal tauta itu akhirnya diracun oleh beberapa warga dari luar desa yang masuk ke Desa Tuva, sehingga musnahlah makhluk gaib tersebut.

Setelah tauta itu musnah, Desa Sinduru pun berganti menjadi Desa Tuva dan sejak itulah masyarakatnya bekerja lebih mandiri.

Kepala Desa Tuva, Bahtiar yang ditemui SultengTerkini.Com di kediamannya menyebutkan, jumlah penduduk di desanya saat ini sebanyak 502 kepala keluarga atau 1.870 orang/jiwa.

Penduduk Desa Tuva yang tersebar di tiga dusun dan 10 rukun tetangga itu, mayoritas bekerja sebagai petani dan pekebun.

Ia menuturkan, di Kecamatan Gumbasa, Desa Tuva merupakan satu dari tujuh desa yang diakui paling banyak sukunya yakni 11 suku dengan mayoritas penduduknya beragama Islam.

Sejak Bahtiar mulai masuk ke Desa Tuva pada tahun 1991 hingga saat ini, masyarakatnya selalu hidup rukun tanpa ada gesekan.

“Saya tidak pernah membeda-bedakan antara suku ini dan suku itu, agama ini dan agama itu, semuanya saya perlakukan sama, itu yang saya lakukan sejak menjadi kades disini,” katanya.

Menurut Bahtiar, pada tahun 2012 atau tepatnya malam Idul Fitri, Desa Tuva sempat dilanda gempa tektonik berkekuatan 6,2 Skala Richter hingga memporak-porandakan beberapa rumah warga di wilayahnya.

Namun musibah itu tidak membuat perekonomian masyarakat setempat menjadi layu.

Pasca bencana itu, kehidupan masyarakat di Desa Tuva dari hari ke hari justru makin lebih baik.

Bahtiar mengaku salah satu dampak yang memicu maju dan berkembangnya ekonomi di daerahnya itu adalah karena intensnya komunikasi antarwarga berkat adanya jaringan Telkomsel yang masuk ke kampungnya.

Kalau dulu sebelum Telkomsel masuk ke desanya, masyarakatnya masih sibuk mencari titik-titik jaringan seluler di wilayahnya agar bisa berkomunikasi.

Tak hanya berkomunikasi, jaringan Telkomsel juga dimanfaatkan untuk mencari solusi masalah pertanian dan perkebunan melalui internet.

“Namun sekarang Alhamdulillah sejak tower dibangun dan jaringan Telkomsel masuk ke desa kami, ekonomi masyarakat disini jadi meningkat. Saya sendiri juga merasakan begitu besarnya dampak dari adanya jaringan Telkomsel di Desa Tuva,” tuturnya.

Salah satu indikatornya adalah, banyaknya warga di Desa Tuva yang kini membuka usaha penjualan telepon genggam dan pulsa Telkomsel.

“Alhamdulillah saat ini warga di desa saya sudah mulai maju ekonominya. Rata-rata satu rumah sudah punya minimal dua sepeda motor. Bahkan beberapa diantaranya ada yang punya mobil, dan sudah naik haji,” katanya.

Bahtiar juga merasa terbantu dengan adanya jaringan Telkomsel yang masuk ke desanya.

Dimana sebelum Telkomsel masuk Desa Tuva, ia dan keluarganya kerapkali terpaksa berangkat ke Kota Palu membeli barang atau kebutuhan bahan pokok untuk keperluan hidup sehari-hari.

“Tetapi dengan masuknya jaringan Telkomsel, sudah jarang ke Palu, karena kita tinggal telepon atau SMS (pesan singkat) melalui sopir angkutan kota atau teman yang kebetulan berangkat ke Palu. Yang jelas pak semua masyarakat disini merasakan besarnya manfaat dari jaringan Telkomsel,” kata Bahtiar.

Ia berharap dengan adanya jaringan Telkomsel di Desa Tuva, masyarakatnya tetap dapat memanfaatkan dengan baik dalam segala urusan, termasuk berinternet ria.

“Tetapi saya minta jangan salahgunakan dengan membuat status-status di media sosial yang membuat masyarakat resah. Bijaklah menggunakan media sosial,” tutur Bahtiar.

Senada dengan Kades Bahtiar, H Arif Porinyo Ahmad (43), salah satu warga di Desa Tuva juga mengaku merasakan efek besar jaringan Telkomsel yang masuk di desanya.

“Sangat senang jaringan Telkomsel sudah masuk di desa ini karena terbantu sekali,” kata Arif yang sehari-harinya bekerja sebagai pekebun itu.

Menurutnya, kehadiran Telkomsel di kampungnya begitu sangat memudahkan segala urusannya dan keluarganya, baik itu urusan pribadi maupun bisnis atau usahanya.

Dulu kata Arif, sebelum jaringan Telkomsel masuk di desanya, ia bersama anggota keluarganya harus keluar rumah mencari titik-titik tertentu untuk mendapatkan jaringan Telkomsel agar bisa berkomunikasi dengan siapa saja.

“Tetapi sekarang tidak lagi, karena kita sudah menikmati jaringan Telkomsel dari dalam rumah,” tuturnya.

Kini Arif tetap menggeluti pekerjaannya di kebun, sementara istrinya, selain menata rumah tangga juga  sibuk mengurus usahanya yakni penjualan barang campuran, termasuk isi pulsa Telkomsel.

Dari usaha berkebun ditambah penjualan barang campuran, penghasilan H Arif dan istrinya dalam sebulannya mencapai puluhan juta rupiah.

“Harus sabar kita, jangan mau langsung ada, butuh proseslah, itu kuncinya,” katanya.

SEJUMLAH pelajar SMP dan SMA di Desa Tuva pulang sekolah dengan berjalan kaki. FOTO: ICHAL

Lalu apa kata pihak Telkomsel mengenai jaringannya yang sudah menembus sejumlah desa terpencil di wilayah Kabupaten Sigi?

Secara terpisah, Manager Network Service Telkomsel Area Palu yang membawahi wilayah Sigi, I Wayan Sudana mengatakan, sejauh ini pihaknya sudah membangun dan mengaktifkan sebanyak 58 Base Transceiver Station (BTS) untuk jaringan 2G yang tersebar di 41 desa di Kabupaten Sigi.

Sementara untuk jaringan 3G di Kabupaten Sigi, pihak Telkomsel sudah mengaktifkan sebanyak 47 BTS di 30 desa.

Adapun jaringan 4G di Kabupaten Sigi, Telkomsel Palu juga sudah mengoperasikan sebanyak 14 BTS yang tersebar di enam desa.

“Khusus untuk jaringan Telkomsel di wilayah Desa Tuva itu kami membangun dua tower disana, namanya BTS 3G DMT Gumbasa Kulawi yang aktif sejak Agustus 2016, dan BTS 2G TBG Salua Kulawi yang sudah aktif sejak September 2016,” tutur I Wayan Sudana.

Tujuan Telkomsel mengaktifkan jaringan di lokasi itu semata-mata hanya untuk melayani atau memenuhi kebutuhan komunikasi para pelanggan di wilayahnya.

Ia pun berharap kehadiran BTS Telkomsel khususnya di Desa Tuva itu dapat terus meningkatkan laju roda perekonomian masyarakat setempat.

Untuk kedepan, pihaknya masih akan terus membangun tower atau BTS hingga ke pelosok desa di wilayah Kabupaten Sigi.

Berdiri pada 26 Mei 1995 di Batam, Telkomsel secara konsisten melayani negeri serta membangun ekosistem teknologi selular terkini selama 22 tahun hingga ke pelosok negeri.

Melalui  HUT ke 22 Telkomsel yang bertema Memajukan Negeri  ini, Executive Vice President Area Pamasuka, Agus Setia Budi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan Telkomsel, khususnya pelanggan setia yang ada di wilayah layanan Area Pamasuka-Papua Muluku Sulawesi dan Kalimantan atas kepercayaannya selama ini dalam menggunakan layanan dan produk Telkomsel.

“Sehingga kami dapat terus menjadi operator terbesar di tanah air. Hal ini menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagi Telkomsel untuk terus menghadirkan inovasi untuk Indonesia, sehingga pelanggan dapat terus menikmati layanan kami dimana pun mereka berada, termasuk daerah pelosok,” katanya.

Agus Setia Budi lebih lanjut menjelaskan, sejak awal berdiri, Telkomsel memiliki tujuan agar akses telekomunikasi dapat dirasakan masyarakat dimana pun mereka berada, mulai dari kawasan perkotaan, hingga desa perbatasan negeri dan pulau terluar.

Hal ini dilakukan salah satunya dalam rangka mendukung pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi di suatu daerah dan membuka isolasi komunikasi yang akan berdampak pada percepatan penyebaran informasi sekaligus percepatan pembangunan suatu daerah.

Karena dengan semakin luas nya cakupan layanan seluler yang dapat dijangkau masyarakat, akan semakin memberi keleluasaan untuk berbagi informasi penting ke berbagai daerah lainnya.

Sebagai operator yang Paling Indonesia, Telkomsel tidak hanya fokus menghadirkan teknologi seluler terkini di kota-kota besar, namun juga berkomitmen terhadap pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi ke seluruh wilayah di Tanah Air, hingga daerah pelosok dan pulau-pulau terdepan.

Hingga saat ini terdapat ratusan daerah hingga wilayah terpencil di mana Telkomsel yang pertama dan sendirian melayaninya, khususnya di wilayah Area Pamasuka-Papua Sulawesi dan Kalimantan.

“Sejalan dengan komitmen sebagai perusahaan milik Negara Indonesia, kami berupaya agar tak ada lagi wilayah Indonesia yang terisolir, sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia benar-benar terajut indah dengan adanya jaringan komunikasi,” pungkas Agus Setia Budi. ***

Komentar