
TAK disangka meskipun ekonomi hampir dikatakan merosot tajam di tengah pandemi Covid-19, namun itu berbeda dengan usaha penjualan berbagai jenis busana muslim wanita di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Betapa tidak, usaha milik Dody Permana itu tetap menghasilkan omzet pendapatan cukup besar walaupun di tengah pandemi Covid-19.
OLEH: APRISAL
Memang pemerintah memprediksi perekonomian Tanah Air pada tahun 2020 melambat hingga tiga persen.
Bagi para pelaku UMKM, kebijakan pembatasan sosial (social distancing) yang bertujuan untuk menekan penyebaran virus ini ternyata berpengaruh pada pola bisnis dan perilaku konsumen.
Tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk Dody Permana selaku pemilik usaha Butik Flaminggo yang berada di Jalan Tanjung Manimbaya, Kelurahan Lolu Selatan, Kota Palu.
Dia mengatakan, kenaikan omzet pendapatan yang diraupnya tahun ini kurang lebih sekitar 50% atau sebanyak Rp 5 juta per hari.
“Apalagi ditambah dengan kemarin selama puasa dan menjelang lebaran hasil yang diperoleh kalau dihitung mencapai Rp 200 juta. Sebab 15 hari dekat lebaran dalam sehari pemasukan sampai Rp 30 hingga Rp 35 jutaan,” tutur Dody saat dikonfirmasi media ini.
Sementara itu, Dody mengungkapkan, penyediaan stok berbagai macam busana muslim wanita, tas hingga sandal didapatnya dari daerah di pulau Jawa dan sekitarnya yang memproduksi barang tersebut. Sedangkan, untuk harga yang dijualnya juga sangat bervariasi mulai Rp 100 ribu hingga Rp 245 ribu.
“Kami saat ini memanfaatkan teknologi khususnya yang berkaitan dengan industri e-commerce. Tentunya adanya digitalisasi menjadi salah satu cara agar nafas usaha dan roda ekonomi terus berkelanjutan,” ungkapnya.
Raihan ini membuatnya yakin bahwa industri fashion masih bisa berkembang meski di tengah situasi pandemi.
Dody pun berharap banyak pengusaha, khususnya anak muda atau kaum milenial bisa memiliki optimisme serupa.
Dari pengalamannya, ada sejumlah hal yang menjadi kunci dalam beradaptasi.
Beberapa diantaranya kata dia, adalah harus menguasai ekosistem daring yang memiliki pasar lebih luas.
Kemudian, pelajari sistemnya karena itu harus dipikirkan biaya untuk promosi, konten dan lain sebagainya.
“Tentukan target market, harus tahu selera pasar dan perbanyak relasi. Poin terakhir, khusus anak muda kalau bisa harus punya mentor yang punya pengalaman,” tuturnya.
Menurutnya, sebagai pelaku usaha tentu saja tidak boleh menyerah. Di tengah maraknya penyebaran Covid-19 ini masih ada alternatif bisnis yang menjanjikan.
Walaupun demikian, bekerja dan berbisnis dari rumah bukannya berarti bisa santai-santai. Bagi pebisnis pemula atau profesional, bisnis tentunya tetap harus berjalan dengan efektif agar bisa bertahan.
Apalagi kata dia, masa social distancing ini bisa menjadi kesempatan untuk mengoptimalkan strategi bisnis.
Hal ini mendorong pentingnya identifikasi perilaku konsumsi dan konsumen dalam menghasilkan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat.
“Selain itu juga sekaligus menjadi momentum berkembangnya ekonomi digital dan kreatif,” pungkasnya. ***









