Hingga Oktober 2022, HIV/AIDS di Palu Capai 151 Kasus

-Utama-
oleh

PALU– Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi pencegahan HIV AIDS lewat berbagai media sebagai upaya pemerintah memberikan perlindungan kesehatan terhadap masyarakat di daerah itu.

“Edukasi tidak hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan semata. Pemkot Palu juga menggandeng organisasi, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai mitra kerja,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu Ilham saat menghadiri pertemuan tentang pengendalian HIV dan AIDS di Palu, Jumat (25/11/2022).

Dia menjelaskan, langkah-langkah yang telah dilakukan Pemkot Palu saat ini yakni membangun kolaborasi dengan pemangku kepentingan di daerah, termasuk organisasi/lembaga sehingga edukasi semakin masif guna percepatan pencapaian program pengendalian HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual (PIMS).

Selain itu, langkah dilakukan pemerintah setempat juga meningkatkan kepedulian masyarakat tentang pentingnya tes voluntary counselling and testing (VCT) secara sukarela melalui layanan konseling yang dibuka pemerintah maupun swasta.

Layanan ini dimaksudkan sebagai bagian dari pencegahan, termasuk pengobatan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Meskipun Dinas Kesehatan sebagai instansi teknis, namun kolaborasi penting sehingga program dapat terlaksana secara simultan,” ujar Ilham.

Data Dinas Kesehatan Palu, angka kasus HIV/AIDS di daerah itu sejak Januari hingga Oktober 2022 sekitar 151 kasus atau meningkat 38 kasus, dibandingkan dengan tahun 2021 yang 113 kasus.

Dia menjelaskan penyakit tersebut dapat menular dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya pergaulan bebas dan risiko ditimbulkan dapat menginfeksi semua orang tanpa memandang usia, karena risiko penularan dapat melalui cairan tubuh manusia.

“Layanan pemeriksaan bertujuan untuk pemeriksaan secara dini, karena penularan penyakit tersebut cepat, bahkan bila tidak tertangani dengan baik dapat berujung pada kematian,” tutur Ilham.

Dia menambahkan, HIV/AIDS bersifat kronis dan dapat berdampak terhadap aspek kehidupan, baik secara psikologi, fisik, sosial, maupun spiritual.

Oleh karena itu, katanya, penanganan kasus tersebut harus dilaksanakan secara simultan dan berkesinambungan.

“Pengendalian sangat penting melalui kerja sama. Mereka yang telah tertular jangan dijauhi, mereka perlu pendampingan dan penguatan, supaya penderita tidak menjadi depresi,” tutur Ilham. ARA

Komentar