Jemaah Haji Asal Sulteng Protes Tidak Dapat Air Minum Lima Hari di Tanah Suci

-Utama-
oleh

MAKKAH– Jemaah haji asal Sulawesi Tengah (Sulteng) Kloter 8 dan 14 protes dengan pelayanan yang tidak maksimal dari pihak pengelola haji di Tanah Suci Makkah.

Seperti yang dialami oleh Alfian Chaniago, salah satu jemaah haji asal Kota Palu, Kloter 14 Balikpapan.

Salah satu pelayanan yang diprotesnya adalah tidak mendapatkan air minum selama lima hari saat di Tanah Suci. Dia menegaskan, pihak pengelola haji di Tanah Suci tidak bertanggung jawab atas pelayanan terhadap jemaah.

Dia mengatakan, selama tiga hari saat berangkat ke Arafah dan Mina, dan dua hari setelah pulang dari Mina ke hotel tidak mendapatkan air minum. Bahkan, jemaah diminta oleh pembimbing untuk membeli air minum sendiri.

“Terjadi tiga hari sampai kita berangkat ke Arafah dan Mina, sepulang dari Mina, kembali ke hotel terjadi hal yang sama, selama dua hari. Jadi total lima hari tidak ada air minum,” ungkap Alfian kepada jurnalis media ini melalui telepon genggamnya dari Tanah Suci.

Alfian menyampaikan bahwa saat negosiasi berlangsung antara pihak petugas haji Indonesia, hotel, katering, dan jemaah, pihak dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) melakukan provokasi dengan datang dan memarahi semua jemaah kloter 8 dan 14 yang hampir berujung pada adu jotos antara jemaah haji.

Peristiwa ini juga terekam dalam video yang sudah beredar luas di media sosial.

Alfian juga melaporkan peristiwa ini ke Kepala Sektor 11, Muhlis Aseng. Alfian mendapatkan respon baik darinya, namun dari pihak katering sendiri tidak memberikan respon apapun.

Namun saat dikonfirmasi jurnalis media ini, hal itu dibantah oleh Muchlis Aseng, Kabid Penyelenggara Haji dan Umrah sekaligus Kepala Sektor 11, terkait isu keterbatasan distribusi makanan menjelang Arafah.

Muchlis menyatakan bahwa informasi yang beredar selama lima hari tersebut tidak benar.

Dia menegaskan, pihaknya bertanggung jawab dan melaporkan kekurangan kepada pihak terkait.

Muchlis juga mengungkapkan adanya keluhan dari jamaah terkait distribusi air di Arafah, di mana satu dus berisi 30 botol, sementara satu rombongan berisi 32 orang, sehingga terjadi kekurangan.

Hal ini pertama kali dilaporkan oleh Alfian Chaniago, yang kemudian memicu insiden dengan petugas katering.

Selama fase distribusi konsumsi, ada beberapa kendala yang dialami, termasuk larangan dari petugas kepolisian Arab Saudi, hal ini mengakibatkan penggunaan ambulans untuk mengantar makanan.

Dia menjelaskan, sektor yang dipimpinnya hanya berfungsi sebagai mediator dan pengawas dalam penyediaan katering bagi jemaah haji, bukan sebagai penyedia langsung konsumsi atau katering.

“Proses distribusi minuman dan makanan terhambat, tapi tetap ada,” jelasnya.

Pada Kamis (20/6), distribusi minuman dan makanan sudah kembali lancar meskipun sempat terlambat. Namun, kelompok yang dipimpin oleh Alfian Chaniago tetap merasa tidak puas dengan pelayanan selama di Tanah Suci.

“Kami sudah menjawab tuntutannya terkait makanan dan minuman,” tegas Muchlis.

Muchlis menekankan bahwa sektor mereka hanya berfungsi sebagai mediator dan fasilitator, bukan penyedia katering.

Menurutnya, pengadaan katering dilakukan oleh perusahaan asal Arab Saudi yang ditunjuk langsung pemerintah Indonesia.

“Ada dua pihak yang bertanggung jawab terkait persediaan air minum yaitu pihak hotel dan katering,” kata Muchlis. RIL

Komentar