PALU– Belasan jurnalis media cetak, televisi, radio dan media online dari Kota Palu, Poso, Morowali dan Kabupaten Banggai membedah sejumlah informasi palsu atau hoaks terkait aktivitas PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Informasi palsu tersebut berasal dari media sosial, website organisasi non pemerintah dan bahkan dari media arus utama ternama di tanah air.
Umumnya, informasi-informasi palsu tersebut dipublikasikan layaknya pemberitaan media massa dilengkapi dengan keterangan para narasumber. Penulisnya bahkan memperlihatkan sejumlah data-data.
Sayangnya, data-data yang disampaikan tidak akurat dan berlebihan. Parahnya, artikel-artikel itu ditulis dengan kata-kata atau diksi tendensius yang mencerminkan ketidaksukaan penulis terhadap keberadaan atau aktivitas hilirisasi nikel di PT IMIP.
Kata-kata seperti genosida buruh, IMIP beroperasi di atas mayat-mayat para buruh, atau PT IMIP melakukan pembiaran atas kecelakaan kerja karyawan tertulis lengkap di dalam artikel tanpa adanya verifikasi faktual di lapangan.
Jelas saja, artikel-artikel ini sangat merugikan perusahaan.
Media Relation Head PT IMIP, Dedy Kurniawan membenarkan bahwa IMIP kerap kali menerima kabar bohong yang merugikan perusahaan.
Menanggapi hal ini, Sekretaris Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulteng, Abdullah K Mari mengatakan, PT IMIP bisa melaporkan kasus ini ke kepolisian sepanjang artikel itu dimuat oleh organisasi yang tidak terdaftar di dewan pers.
“Artikel yang dimuat di website yang tidak berbadan hukum, tidak terdaftar di dewan pers sebagai media massa dan tidak memiliki sertifikat uji kompetensi jurnalistik bukan dianggap sebagai produk jurnalistik dan tidak dapat dilindungi dengan UU Pers. Bisa kena Undang-undang ITE,” tegas Abdullah saat menjadi pemateri pelatihan jurnalistik bertajuk jurnalisme ekonomi dan industri di Palu, Rabu (21/5/2025).
Kepada para wartawan yang menjadi peserta pelatihan, Abdullah menekankan pentingnya memverifikasi informasi sebelum dipublikasikan.
“Wartawan wajib menulis berita secara akurat dan berimbang,” jelas Abdi-sapaan akrabnya.
Massifnya informasi yang beredar di media sosial, lanjut Abdi, menuntut wartawan untuk lebih selektif.
“Jangan langsung ditelan mentah-mentah dan langsung dipublikasi,” tuturnya.
Direktur Komunikasi PT IMIP, Emilia Bassar mengapresiasi pelatihan jurnalistik ini.
Menurutnya, wartawan Sulawesi Tengah harus tetap menjadi penjaga kebenaran di tengah perkembangan teknologi yang bergerak cepat.
“Verifikasi data, fakta dan perangi hoax,” tegasnya. GUS










Komentar