JALUR GAZA– Diperkirakan 35.000 anak dan orang dewasa “sebagian atau sepenuhnya” kehilangan pendengaran mereka akibat pemboman selama serangan genosida Israel selama dua tahun di Jalur Gaza. Data itu menurut laporan Le Monde, mengutip survei organisasi nirlaba lokal.
“Gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh cedera pada kepala atau leher, trauma otak yang menyebabkan gendang telinga pecah dan kerusakan pada sistem pendengaran. Tetapi juga dapat disebabkan oleh paparan gelombang suara, bahkan jika seseorang tidak mengalami cedera fisik,” ungkap Dr. Ramadan Hussein, seorang audiolog yang bekerja dengan Atfaluna Society for the Deaf. “Gangguan pendengaran ini, paling sering, tidak dapat dipulihkan,” tegasnya.
Kekuatan Ledakan
Salah satu anak yang pendengarannya terpengaruh oleh pemboman adalah seorang gadis berusia 12 tahun bernama Dana. Ia sedang beristirahat di kamarnya di Kota Gaza ketika satu rudal Israel menghantam gedung tepat di seberang kamarnya, menurut laporan tersebut.
Ayah Dana menekankan ledakan itu “sangat dahsyat”, dengan pintu kamarnya terlepas dan jendela-jendela hancur. Meskipun selamat dari ledakan, Dana kehilangan pendengarannya. Para spesialis di organisasi Atfaluna mengkonfirmasi Dana menderita “gangguan pendengaran yang sangat parah”.
Mereka mengatakan, “Karena kekuatan ledakan, saraf pendengaran rusak parah, bahkan mungkin hancur total.”
Bayi Berusia Lima Hari
Dalam kasus lain, seorang bayi yang baru berusia lima hari terlempar dan terkubur di bawah pasir ketika satu rudal Israel menghantam satu meter dari tenda keluarganya di daerah al-Mawassai, Khan Yunis, menurut laporan tersebut.
Ibunya, Safa al-Qara, mengatakan, “Kami menemukannya berkat kakinya yang mencuat. Ia dalam keadaan yang mengerikan; kami pikir ia akan meninggal.” Empat bulan setelah kelahirannya, ibunya menyadari “ada sesuatu yang salah.”
Ia mengatakan hanya gerakan yang “menarik perhatiannya, bukan suara.” Ia kemudian didiagnosis memiliki tingkat pendengaran nol.
Laporan tersebut menyatakan ia sangat membutuhkan alat bantu dengar atau implan koklea untuk menghindari keterlambatan perkembangan yang parah –tugas yang mustahil di wilayah yang terkepung tersebut karena Israel telah memblokir masuknya beberapa peralatan medis dan obat-obatan.
“Selama hampir setahun, tidak satu pun alat bantu dengar yang masuk ke Jalur Gaza,” ujar Dr. Hussein memperingatkan, menambahkan, “Bahkan mereka yang sudah memilikinya pun akan segera tidak dapat menggunakannya, karena baterai juga dilarang.”
Infrastruktur Hancur
Selain kekurangan, laboratorium untuk membuat cetakan telinga khusus dan sebagian besar infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengobati gangguan pendengaran telah hancur akibat serangan darat Israel, demikian laporan tersebut menyatakan.
Banyak spesialis di bidang ini juga telah meninggalkan wilayah tersebut karena perang genosida. Dr. Hussein memperingatkan, “Pengungsian paksa, pemboman terus-menerus, kelaparan, dan kekurangan obat-obatan memengaruhi wanita hamil dan janin dan dapat menyebabkan kelahiran anak-anak dengan disabilitas, termasuk gangguan pendengaran.”
Pada saat yang sama, dengan memburuknya kondisi di kamp-kamp pengungsi, kekurangan gizi, dan kurangnya perawatan kesehatan primer, terdapat risiko infeksi.
Fady Abed, direktur Atfaluna, memperingatkan, bahkan infeksi ringan, “seperti infeksi telinga, dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen jika tidak diobati tepat waktu,” demikian laporan tersebut.
(sumber: sindonews.com)










Komentar