PALU– Wakapolda Sulawesi Tengah (Sulteng), Brigjen Polisi Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf menegaskan terkait keberpihakannya terhadap masyarakat, bukan kepada para pengusaha atau korporasi apapun.
Wakapolda Helmi yang ditemui jurnalis media ini di ruang kerjanya secara tegas menyatakan jika dirinya lebih takut mencederai hati dan perasaan masyarakat di wilayahnya.
“Sebagai seorang akamsi (anak kampung sini), saya harus memaksimalkan semua kekuatan saya untuk berdiri disisinya, membela masyarakat dan berbuat baik terhadap mereka,” tegas orang kedua di Polda Sulteng itu.
Maka dari itu wakapolda menyatakan, kepada siapapun, jangan pernah bermimpi bisa membujuk dirinya, untuk kemudian melakukan tindakan yang berhadapan dengan masyarakat.
Apalagi kata dia, sampai melakukan tindakan represif, pengusiran, penangkapan atau apapun namanya, selama masyarakat berada di jalur yang benar.
Wakapolda Helmi juga mengungkapkan bahwasanya dirinya sudah beberapa kali coba dibujuk dengan segala cara agar mau berada di sisi perusahaan untuk kemudian menekan masyarakat.
Soal jabatan yang diembannya saat ini sebagai Wakapolda Sulteng, Helmi mengaku tidak khawatir. Dia mengaku pernah dicopot oleh Kapolri tahun 2017 yang saat itu lebih membela masyarakat ketimbang pihak perusahaan di Kabupaten Banggai.
“Dan Alhamdulillah, Allah SWT mengizinkan saya menjadi jenderal, jadi Wakapolda Sulteng,” tutur alumni Akademi Kepolisian Tahun 1993 itu.
Olehnya itu, dia pun tidak takut, jika kemudian jabatannya menjadi taruhannya. Apalagi kata mantan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulteng itu, jabatan tidak lama dipegang, akan berakhir, dan ada waktunya kembali menjadi masyarakat.
Maka dari itu, kata Helmi, tidak ada satupun alasan bagi dirinya, untuk membuatnya takut apalagi ciut, terkait dengan tidak berpihak dirinya terhadap perusahaan.
Bahkan dirinya memperingatkan kepada perusahaan, yang datang ke tanah Sulteng, kemudian hanya mengeruk kekayaan alam, lalu membuat rusuh dan membenturkan masyarakat, untuk segera memperbaiki diri.
Karena apapun itu, maka dia akan tetap berada di sisi masyarakat. Sebaliknya kata dia, jika ada perusahaan yang datang ke Sulteng, kemudian mampu memberikan manfaat kepada masyarakat dan tidak bikin rusuh, maka ini harus dibela sampai titik darah penghabisan.
Ada satu alasan, yang membuatnya mengambil keputusan berani ini. Karena bagi dirinya, Sulteng adalah tanah kelahirannya, rumah menjadi tempatnya pulang, ketika sudah pensiun nanti. Atau setidaknya, saat dia tidak lagi bertugas di Sulteng, dia bisa kembali, dengan sambutan hangat masyarakat.
“Setidaknya saat saya pulang lebaran, mudik kesini, saya diterima dengan hangat oleh masyarakat, karena pernah membela mereka. Tapi, yang lebih saya takuti, ketika saya datang lagi kesini, saya pun dijauhi, karena pernah menjadi polisi, yang tidak membela mereka,” ungkap mantan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan itu.
Apalagi kata dia, di Lembah Palu, tepatnya di Kelurahan Poboya, ada makam ayahandanya, dan juga tempat bermukim keluarga besarnya.
Sehingga secara langsung, dia pun mencederai perasaan keluarganya, dan orang tuanya, karena hadir, menjadi tameng perusahaan, bukan menjadi pembela masyarakat.
“Jadi sekali lagi tidak ada yang membuat saya takut berkaitan dengan keberpihakan saya sama masyarakat untuk menghadapi korporasi. Jabatan ini tidak perlu dipertaruhkan, kapan waktunya selesai, apa yang mau ditakutkan. Kalau Allah rida bisa jadi Kapolda saya. Meskipun mau dihalangi apa itu, fitnah segala macam, kalau Allah rida (tetap) mau jadi. Sebagai akamsi, saya akan melakukan semua yang terbaik untuk kampung halaman saya, dan saya tidak akan buat hati dan kepercayaan masyarakat terhadap saya itu cedera,” pungkas mantan Wakil Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri itu. CAL














Komentar