PALU– Pondok Pesantren (Ponpes) Muhammadiyah Boarding School (MBS) Palu Tingkat SMP dan SMA menggelar kegiatan Syawalan di Gedung Al Awwal MBS, Jalan Soekarno Hatta Lorong Bukit Zaitun, Kelurahan Talise Valangguni, Kecamatan Mantikulore, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Ahad (5/4/2026) pagi.
Kegiatan itu dihadiri Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulteng, Amin Parakkasi, Direktur MBS Palu, Mulkus Kisman dan jajarannya, sejumlah kepala madrasah, pemberi wakaf tanah pembangunan MBS, dan para orang tua/wali santri, termasuk calon santri baru.
Dalam sambutannya, Direktur MBS Palu, Mulkus Kisman mengatakan, Syawalan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan ponpes tersebut.
“Kalau tahun kemarin digelar di depan Gedung GBK (Unismuh Palu), Alhamdulillah kita gelar ditempat ini. Inilah kondisi terkini gedung MBS kita. Target kita, insyaAllah tahun ini kita bisa tempati,” tuturnya.
Dia mengatakan, MBS Palu merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tepat untuk mendidik anak-anak dewasa saat ini, tanpa mengesampingkan ponpes lainnya.
Menurutnya, kekhawatiran sekarang bukan karena tidak mampu beri makan anak-anak di rumah, tetapi terkait dengan perkembangan media dewasa ini.
“Saya saja itu, anak tiga, ketiga pulang dibuatkan jadwal untuk pegang HP (handphone) minimal dua jam. Kalau saya tanya ini santri-santri kalau ada yang tidak pegang HP pulang (ke kampung) saya beri hadiah,” katanya.
Olehnya dia berharap hafalan Al Quran para santri itu tidak hilang ketika berlama-lama di kampung.
Dia pun mengutip ayat di dalam Al Quran yang artinya “hendaklah kamu merasa khawatir atau takut meninggalkan sebuah generasi yang lemah”.
Lemah menurut Mulkus, bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga menyangkut soal aqidah yang harus dikhawatirkan para orang tua.
Begitu kencang arus informasi sekarang ini hampir-hampir tidak bisa lagi dibedakan mana yang baik dan benar.
“Inilah kekhawatiran terhadap anak-anak kita. Saya diwanti-wanti oleh guru saya, almarhum Ustaz Jaiz, anda ini seorang pendidik, tetapi saya tidak yakin anda bisa mendidik anak anda. Bagaimana caranya, anak saya tiga saya titipkan di sebuah lembaga pendidikan bernama pesantren, saya titip disitu kendati saya bayar, kenapa karena saya merasa tidak mampu mengawasi. Saya kira kita juga merasakan hal yang sama,” ungkapnya.
Olehnya dia memberikan apresiasi kepada para orang tua/wali santri yang telah mempercayakan MBS sebagai lembaga pendidikan untuk mendidik, mengarahkan serta membentuk karakter anak-anak menjadi generasi penghafal Al Quran.
Sementara itu, Ketua PW Muhammadiyah Sulteng, Amin Parakkasi mengaku bangga dengan seorang santriwati MBS Palu yang baru setahun tetapi sudah menghafal Al Quran sebanyak delapan juz.
“Sementara saya nanti delapan tahun baru bisa (menghafal) delapan juz,” katanya.
Amin mengungkapkan, delapan tahun yang lalu punya program hafal satu juz setiap tahun.
“Jadi bukan hafal satu juz setiap bulan, tetapi setiap tahun dihafal. Sekarang sudah masuk juz kedelapan, juz 28, 29, 30, 1, 2, 3, 4, ini yang (juz) kelima. Inilah kelebihan anak-anak kita, bisa mondok, bisa fokus untuk menghafal Al Quran,” katanya.
PW Muhammadiyah Sulteng kata dia, berijtihad membuat ponpes bernama MBS Palu yang sejak puluhan tahun lalu merupakan tuntutan dan cita-cita bersama untuk mendirikan pondok pesantren.
Dia pun menegaskan, ada prinsip TITIP yang betul-betul harus diterapkan oleh para orang tua santri ketika memasukkan anaknya ke ponpes. Amin menyebutkan, prinsip TITIP itu yakni Tega, Ikhlas, Tawakal, Ikhtiar, dan Percaya.
Karena masih dalam suasana Syawal, maka dalam kesempatan itu, Amin Parakkasi juga tak lupa mengucapkan taqabballahu minna waminkum, mohon maaf lahir dan batin. Kegiatan itu ditutup dengan acara makan siang dan foto bersama para undangan. CAL










Komentar