TEHERAN– Pasukan Iran telah menangkap empat orang atas tuduhan bekerja sebagai agen badan intelijen Israel, Mossad. Menurut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), keempat orang tersebut telah membocorkan lokasi situs militer Iran kepada rezim Zionis Israel.
Penangkapan ini terjadi ketika para pejabat Washington membahas kemungkinan perundingan damai lanjutan dengan Teheran setelah serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang menjerumuskan Timur Tengah ke dalam perang.
“Empat agen yang terkait dengan Mossad ditangkap di provinsi Gilan di Iran utara,” tulis media pemerintah, IRNA, mengutip pernyataan dari IRGC, Kamis (16/4/2026).
“Para tersangka telah memberikan gambar dan lokasi beberapa situs militer dan keamanan yang sensitif dan penting kepada petugas intelijen Mossad melalui internet,” lanjut laporan tersebut. Para tersangka telah diserahkan kepada otoritas kehakiman.
Iran Tantang AS Perang Darat
Sementara itu, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei; Mohsen Rezaei, menantang militer Amerika Serikat (AS) untuk meluncurkan invasi darat.
Rezaei, yang sejak lama dianggap sebagai tokoh militer garis keras bahkan di dalam IRGC, mengatakan akan “hebat” jika Amerika Serikat melancarkan invasi darat ke Iran. “Karena kami akan menyandera ribuan orang dan kemudian untuk setiap sandera kami akan mendapatkan satu miliar dolar,” katanya.
Rezaei mengeklaim bahwa dia sama sekali tidak mendukung perpanjangan gencatan senjata. “Masalah tersebut tergantung pada keputusan para pejabat terkait,” ujarnya. Dia juga mendesak para pejabat Iran untuk lebih berhati-hati daripada sebelumnya dalam negosiasi mengenai masalah ekonomi dengan AS.
Rezaei mengeklaim bahwa Iran-lah yang menetapkan prasyarat dalam putaran perundingan berikutnya, bukan AS. “Tidak seperti Amerika yang takut akan perang yang berkelanjutan, kami sepenuhnya siap dan terbiasa dengan perang yang panjang,” katanya.
Rezaei, yang merupakan mantan panglima tertinggi IRGC, mengatakan di televisi bahwa Teheran akan menenggelamkan kapal-kapal Amerika jika Amerika Serikat memutuskan untuk mengawasi jalur pelayaran Selat Hormuz.
“Trump ingin menjadi polisi Selat Hormuz. Apakah ini benar-benar tugas Anda? Apakah ini tugas tentara yang kuat seperti AS?” katanya. “Peluncur rudal kemungkinan besar telah dipindahkan oleh saudara-saudara kami dan sekarang diarahkan ke Abraham Lincoln dan semua kapal perang Amerika,” paparnya, merujuk pada salah satu kapal induk AS.
“Kapal-kapal Anda ini akan ditenggelamkan oleh rudal pertama kami dan telah menciptakan bahaya besar bagi militer AS. Mereka pasti dapat terkena rudal kami, dan kami dapat menghancurkan semuanya. Kami tidak akan membiarkan satu pun lolos dari kami,” paparnya.
AS memberlakukan blokade militer di Selat Hormuz setelah Iran memblokir pelayaran selama lebih dari enam minggu perang dalam konflik yang ditangguhkan karena gencatan senjata dua minggu yang rapuh masih berlaku.
(sumber: sindonews.com)










Komentar