Basarnas Palu Tangani 17 Kasus Kecelakaan Laut

SEJUMLAH petugas Basarnas Palu sesaat sebelum turun ke lokasi melakukan pertolongan terhadap korban kecelakaan di laut. FOTO: BASARNAS PALU

SultengTerkini.Com, PALU– Badan SAR Nasional (Basarnas) Kota Palu, Sulawesi Tengah saat ini mencatat selama 2017 sudah menangani 17 kasus kecelakaan laut yang terjadi di wilayahnya.

“Mulai dari Januari hingga awal Mei 2017 ada 17 kasus kecelakaan pelayaran yang kita tangani,” kata Kepala Sub Seksi Operasi Kantor SAR Kota Palu, George L Mercy Randang kepada SultengTerkini.Com di Palu, Sabtu (6/5/2017).

Dia mengatakan, belasan kecelakaan yang ditangani tersebut meliputi dua kasus yakni kasus pelayaran dan kasus dengan kondisi membahayakan manusia.

“Kecelakaan yang terjadi di perairan itu contohnya seperti nelayan hilang atau rumah hanyut terbawa arus. Sementara kasus kondisi membahayakan yang kami maksud adalah kondisi yang membahayakan jiwa,” katanya.

Pada Januari 2017, pihak Basarnas Palu menangani sebanyak empat kasus, dimana tiga kasus itu adalah kasus pelayaran dan satu kasus lagi adalah kondisi membahayakan manusia.

Di Februari, ada dua kasus kecelakaan pelayaran.

Berikutnya di Maret, terdapat dua kasus pelayaran dan dua kasus dengan kondisi membahayakan manusia.

Selanjutnya, pada April 2017, sebanyak tiga kasus pelayaran dan dua kasus kondisi membahayakan manusia juga ditangani pihak Basarnas Palu.

“Dan untuk awal Mei saat ini tercatat ada dua kasus kecelakaan dalam kondisi membahayakan,” tuturnya.

Menurut dia, hampir setiap bulan kecelakaan di laut terjadi, entah itu kasus pelayaran ataupun kondisi yang membahayakan manusia.

“Dari segi masyarakatnya harus kita ingatkan. Kita sosialisasikan, imbauan-imbauan juga sudah kita berikan. Bahkan bulan lalu kita juga memberikan semacam latihan SAR gabungan di Luwuk. Artinya kita sudah maksimal menyosialisasikan kepada masyarakat agar tidak menjadi korban kecelakaan di laut,” ujarnya.

Dia mengatakan, belasan kasus kecelakaan yang terjadi tersebut karena kurangnya pengawasan dari regulator.

“Rata-rata masyarakat kecil yang mengalami kecelakaan tersebut, salah satunya adalah nelayan kita,” katanya.

Dia berharap agar kedepannya memberikan pelayanan yang terbaik sesuai moto Basarnas saat ini adalah “memberikan bantuan secepat mungkin dan benar” karena cepat, belum tentu benar.

“Penanganan korbannya apakah sudah sesuai prosedur atau tidak. Kan ada tata cara untuk mengevakuasi seseorang yang terkena musibah,” katanya. FIQ

Komentar