JALUR GAZA– Gencatan senjata di Gaza yang dimediasi Amerika Serikat (AS) antara Israel dan kelompok pejuang Palestina Hamas telah berlangsung selama 100 hari. Washington telah mengumumkan dimulainya fase selanjutnya dari rencana perdamaiannya.
Gencatan senjata, yang mulai berlaku pada bulan Oktober, merupakan bagian dari fase pertama peta jalan yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Ketentuannya termasuk gencatan senjata, pembebasan sandera, dan peningkatan bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.
Menurut laporan yang disampaikan kepada RT pada hari Ahad oleh jurnalis lokal Rami Mughari dari Kota Gaza, beberapa barang kebutuhan pokok seperti makanan, gas untuk memasak, dan bahan bakar menjadi lebih mudah didapatkan selama tiga bulan terakhir, sementara masalah dengan listrik dan air minum masih berlanjut.
Mughari juga mencatat meskipun Israel masih melakukan serangan, situasi keamanan secara keseluruhan di wilayah tersebut telah membaik. Terlepas dari gencatan senjata tersebut, kedua belah pihak telah berulang kali saling menuduh melakukan pelanggaran.
Otoritas kesehatan setempat melaporkan lebih dari 450 orang telah tewas di Gaza akibat serangan Israel sejak Oktober. Pada hari Kamis, Trump mengumumkan peralihan ke Fase Dua dari rencana tersebut, yang mencakup pengerahan pasukan keamanan internasional, pelucutan senjata Hamas, dan rekonstruksi.
Ia menyatakan ia “mendukung” Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) yang baru diangkat untuk memerintah selama masa transisi.
Hamas sebelumnya menyatakan mereka tetap berkomitmen pada proses perdamaian tetapi menolak menyerahkan senjata mereka “selama pendudukan (Israel) masih berlangsung.”
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan peralihan ke Fase Dua sebagian besar bersifat simbolis, menggambarkan pengenalan NCAG sebagai “langkah deklaratif.”
(sumber: sindonews.com)











Komentar