DONGGALA– Telkomsel mengadakan Penanaman 2.000 Pohon Mangrove di Kawasan Pesisir Desa Mapane Tambu, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada Kamis (18/6/2026) sebagai bagian inisiatif pelestarian lingkungan bertajuk Telkomsel Jaga Bumi Movement.
Program ini juga merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan Telkomsel dalam memperingati Hari Bumi pada 22 April 2026 lalu di berbagai wilayah Indonesia.
Sejalan dengan tema Hari Bumi global “Our Power, Our Planet”, inisiatif bertujuan untuk menekan jejak emisi karbon secara kolektif dengan membuka ruang aksi langsung bagi masyarakat, mulai dari menggelar kompetisi inovasi hijau bagi generasi muda, hingga memfasilitasi ratusan juta pelanggan untuk mendonasikan pohon lewat penukaran Telkomsel Poin.
Telkomsel Jaga Bumi Movement di Palu diikuti oleh 50 Volunteer yang terdiri dari Karyawan Telkomsel, perwakilan masyarakat, mahasiswa, Jejakin, komunitas dari Kelompok Sadar Wisata Sintuvu Mapane Tambu, Rumah Bahari Gemilang (Rubalang) dan Konservasi Penyu Lontara.
Selain itu dihadirkan sesi talkshow tentang Sejarah Kebencanaan di Teluk Tambu bersama Pengamat Kebencanaan Sulteng yang juga merupakan Dosen Program Studi Geofisika Universitas Tadulako, Abdullah dan Koordinator Komunitas Historia Palu, Moh Herianto.
Manager CSR Environment adn Ecosystem Telkomsel, Rifki Sya’bani mengatakan, pihaknya menyadari bahwa masyarakat terutama generasi muda mulai memiliki kesadaran besar untuk melestarikan lingkungan.
Oleh karena itu, Telkomsel Jaga Bumi hadir bukan sekadar program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan, melainkan sebagai wadah kolaborasi.
“Kami menyediakan ekosistem komprehensif, mulai dari pemanfaatan teknologi digital, kompetisi inovasi lingkungan, hingga fitur tukar poin menjadi pohon, agar setiap individu bisa memberikan dampak nyata bagi Bumi dan generasi mendatang,” katanya.
Selain menyerap emisi karbon, penanaman mangrove di kawasan pesisir berperan penting untuk mencegah abrasi pantai serta menjaga keberlangsungan ekosistem biota laut dan wilayah muara.
Lebih dari itu, keberadaan hutan mangrove juga menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana, khususnya dalam menciptakan benteng alam yang dapat mengurangi dampak tsunami pascagempa.
Ke depan, kawasan mangrove yang terkelola dengan baik diharapkan dapat memberikan nilai tambah sebagai destinasi wisata alam dan sarana edukasi lingkungan bagi masyarakat luas, sekaligus dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis keberlanjutan di wilayah pesisir. */CAL










Komentar