KEBERADAAN industri pengolahan nikel di Kabupaten Morowali berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. Bank Indonesia Perwakilan Sulteng mencatat, pengolahan hasil tambang nikel menyumbang 90 persen angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2022. Apakah ini berita yang menggembirakan? Belum tentu!.
OLEH: AGUS PANCA SAPUTRA
Ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan III tumbuh 19,13 persen atau berada diurutan dua tertinggi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi provinsi ini jauh diatas rata-rata ekonomi nasional dan berada dibawah Provinsi Maluku Utara yang tercatat sebesar 24,85 persen.
Jika dihitung sejak triwulan pertama tahun 2022, Bank Indonesia Perwakilan Sulteng memproyeksi ekonomi Sulteng tumbuh di angka 14,83 – 16,83 persen. Bahkan tahun depan, ekonomi Bumi Tadulako diproyeksi masih tetap tumbuh tinggi di angka 10,24 – 12,24 persen.
Tingginya angka pertumbuhan ekonomi ini tentu sebuah kebanggaan. Apalagi, angkanya jauh diatas rata-rata nasional dan ‘mengalahkan’ kota-kota besar di Indonesia. Angka pertumbuhan ekonomi mencerminkan semakin membaiknya roda ekonomi masyarakat. Buktinya, angka kemiskinan dan pengangguran di provinsi ini menurun.
Pertumbuhan ekonomi juga membuktikan bahwa pemerintah provinsi dan daerah bekerja dengan baik dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Angka kemiskinan tercatat 12,33 persen dari jumlah penduduk, serta jumlah pengangguran turun 0,75 persen menjadi 3,0 persen dari total penduduk usia produktif.
Pada triwulan II tahun ini, realisasi investasi di Kabupaten Morowali tercatat sebesar Rp144 triliun dan Rp22,24 triliun di Kabupaten Morowali Utara.
Meski demikian, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota tak boleh terlalu bangga dengan angka pertumbuhan ekonomi ini. Bahkan, angka ini hendaknya dijadikan pemantik semangat untuk berbuat yang lebih baik, khususnya bagi kabupaten di luar Morowali dan Morowali Utara.
MANFAATKAN POTENSI
Pertumbuhan ekonomi yang mayoritas bahkan menyentuh angka 90 persen dari total nilai pertumbuhan ekonomi di sektor pengolahan nikel menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi di sektor-sektor lain masih rendah.
Padahal, potensi sumber daya alam provinsi ini tak hanya dari hasil tambang.
Kabupaten Parigi Moutong misalnya. Kabupaten dengan luas wilayah 6.231,85 km persegi ini memiliki potensi pertanian dan perikanan yang luar biasa. Kabupaten ini adalah penghasil beras dan ikan terbesar di Sulawesi Tengah.
Teluk Tomini yang membatasi wilayah darat kabupaten ini memiliki potensi perikanan dan pariwisata. Sayangnya, potensi ini belum tergarap maksimal.
Pun demikian dengan Kabupaten Poso. Sejumlah potensi di kabupaten yang terkenal dengan keindahan Danau Poso-nya ini juga belum mampu dimanfaatkan secara optimal.
Pemerintah kabupaten lain seperti Tojo Unauna, Banggai Kepulauan, Banggai Laut, Sigi, Donggala, Tolitoli dan Kabupaten Buol perlu mencari cara agar segala potensi yang ada bisa dimaksimalkan.
JANGAN BERGANTUNG TAMBANG
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah, Dwiyanto Cahyo Sumirat menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi di sektor lain. Sebab, potensi sumber daya alam yang dimiliki Provinsi Sulawesi Tengah begitu melimpah.
Apalagi, hasil tambang nikel maupun emas semakin berkurang jumlahnya, sementara hasil dari sektor lain terus bertumbuh setiap tahun.
Sambil mencari cara dalam pemanfaatan potensi daerah, Dwiyanto juga mendorong agar daerah-daerah di luar Kabupaten Morowali dan Morowali Utara memanfaatkan keberadaan industri pengolahan nikel untuk meningkatkan ekonomi di sektor-sektor lain.
Dwiyanto mencontohkan. Kabupaten Poso sebagai daerah terdekat dengan Kabupaten Morowali Utara dan Kabupaten Morowali, harusnya mampu memenuhi kebutuhan pekerja tambang. Misalnya dalam pasokan bahan makanan.
“Kebutuhan daging ayam, daging sapi atau cabai di perusahaan tambang, harusnya dipasok dari kabupeten ini, sehingga para peternak dan petani secara tidak langsung merasakan manfaat keberadaan perusahaan tersebut,” terang Dwiyanto.
Untuk pekerja, sambung Dwiyanto, memang terkendala dengan kecakapan sumber daya manusia, karena pada posisi tertentu, pekerja tambang diharuskan memiliki skill dan berpengalaman.
“Untuk masalah sumber daya manusia, pemerintah sudah berbuat dengan menyediakan sekolah atau lembaga pelatihan,” tuturnya.
“Apa kebutuhan disana (di Morowali) harus kita yang pasok. Jangan dari luar Sulawesi Tengah,” singkatnya.
Dwiyanto optimis, Gubernur Sulawesi Tengah bisa memanfaatkan potensi ini.
PELUANG MASIH ADA
Pemerataan pertumbuhan ekonomi di seluruh sektor masih berpeluang. Tinggal bagaimana pemerintah daerah mampu memanfaatkan momentum.
Tahun 2023 diprediksi menjadi tahun politik, dimana para tokoh-tokoh masyarakat akan bersaing mencari simpati dan dukungan. Momentum ini perlu dimanfaatkan dalam menumbuhkan sektor-sektor ekonomi lainnya.
Kebutuhan akan baliho, bendera partai bahkan kaos diprediksi akan meningkat. Pelaku-pelaku usaha yang bergerak di bidang ini harus mempersiapkan diri. Tak hanya itu, pelaku usaha di bidang makanan juga harus bersiap karena permintaan bakal meningkat tajam.
Pelaksanaan kampanye pasangan calon legislatif dan calon kepala daerah paling tidak dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Kesadaran para calon pemimpin untuk membantu ekonomi masyarakat lokal dengan tidak membeli dari luar daerah sangat dibutuhkan.
Karena hajatan politik inilah Bank Indonesia memproyeksi ekonomi Sulteng tahun depan akan tetap tumbuh positif.
“Cintai produk dalam negeri. Dengan belanja produk lokal, sama saja kita membantu menggerakkan ekonomi masyarakat lokal,” tutur Dwiyanto.
Bank Indonesia, sambung Dwiyanto tidak tinggal diam. Dalam membantu usaha ekonomi masyarakat Sulawesi Tengah, Bank Indonesia Sulteng telah melakukan berbagai kegiatan pengembangan kapasitas pelaku UMKM serta memberikan berbagai bantuan sosial bagi petani dan nelayan.
“Semua pihak harus terlibat agar masyarakat provinsi ini jauh lebih baik,” tutupnya. ***










Komentar