TEL AVIV– Mantan Perdana Menteri (PM) Zionis Israel Ehud Barak menganggap visi menang perang total atas Hamas di Jalur Gaza sebagai delusi. Dia mendesak negaranya untuk segera mengakhiri perang tersebut.
Barak memperingatkan bahwa PM Benjamin Netanyahu sedang menghadapi pilihan kritis: mengejar “perang politik tipu daya” atau mengakhiri perang dan mengamankan pembebasan para sandera.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Haaretz, Barak menyatakan keraguan kuat bahwa memperpanjang perang akan menghasilkan hasil yang berbeda dari kampanye militer sebelumnya di Gaza.
“Memilih perang tipu daya,” tulisnya, “akan menulis bab baru dalam ‘The March of Folly’,” lanjut Barak. “Perang yang sedang berlangsung adalah tipu daya menyesatkan (yang) mengaku sebagai kampanye untuk keamanan dan masa depan negara, sementara pada kenyataannya itu adalah perang politik,” lanjut Barak.
Barak memperingatkan bahwa memperpanjang perang tidak akan membuahkan hasil apa pun. “Tidak diragukan lagi akan memperburuk isolasi diplomatik dan hukum Israel, memicu gelombang antisemitisme dan merupakan hukuman mati bagi sebagian atau sebagian besar sandera yang masih hidup,” imbuh Barak.
Bekas PM Israel tersebut mengesampingkan strategi Netanyahu bisa menang. “Akan masuk akal jika itu bisa membawa ‘kemenangan total’ atas Hamas, tetapi itu tidak akan terjadi,” paparnya.
“Pendudukan permanen Jalur Gaza, pemindahan penduduk 2 juta warga Palestina dan pemukiman kembali warga Israel di tanah itu semuanya adalah visi yang tidak berdasar dan delusi yang akan menjadi bumerang bagi kita dan hanya mempercepat konfrontasi dengan seluruh dunia,” terang Barak.
“Kita sangat perlu dibebaskan dari pemerintahan terburuk dalam sejarah kita,” tulis Barak, merujuk pada pemerintahan PM Netanyahu.
Genosida yang Berkelanjutan
Sejak Israel mengingkari gencatan senjata pada 18 Maret, militer Zionis telah membunuh dan melukai ribuan warga Palestina di seluruh Jalur Gaza melalui pemboman udara berdarah dan berkelanjutan.
Pada 7 Oktober 2023, setelah operasi kelompok perlawanan Palestina di Israel selatan, militer Israel melancarkan perang genosida terhadap warga Palestina, menewaskan lebih dari 53.000 orang, melukai lebih dari 122.000 orang, dan lebih dari 14.000 orang masih hilang.
Meskipun banyak negara di seluruh dunia mengutuk genosida Israel, sedikit yang telah dilakukan untuk meminta pertanggungjawaban Israel. Israel saat ini sedang diselidiki atas kejahatan genosida oleh Mahkamah Internasional (ICJ), sementara para penjahat perang yang dituduh—termasuk PM Netanyahu—sekarang secara resmi diburu oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
Menurut laporan Palestine Chronicle, Ahad (25/5/2025), genosida Israel sebagian besar dipertahankan, didukung, dan dibiayai oleh Washington dan beberapa kekuatan Barat lainnya.
(sumber: sindonews.com)










Komentar