Senin, 29 Juni 2026
BREAKING

Sering Dianggap Sama, Ini Bedanya Sakit Maag, GERD dan Gastritis yang Wajib Dipahami

ILUSTRASI sakit maag atau GERD. FOTO: FREEPIK

JAKARTA– Sakit perut di bagian atas sering kali disimplifikasi dengan sebutan sakit maag. Padahal, keluhan tersebut bisa dikaitkan dengan berbagai kondisi maupun penyebab yang belum tentu sama.

Dalam dunia medis, ada beberapa gangguan pencernaan yang memiliki gejala seperti yang dikenal awam sebagai sakit maag, antara lain dispepsia, GERD (gastroesophageal reflux disease), dan gastritis.

Karena gejalanya sering tumpang tindih, tidak sedikit orang yang keliru menganggap ketiganya sebagai penyakit yang sama.

Perbedaan Maag, GERD, dan Gastritis

Ketahui perbedaan maag, GERD, dan gastritis berikut ini.

1. Maag

Sakit maag merupakan istilah awam untuk menggambarkan berbagai kondisi ketidaknyamanan di perut, dan yang paling umum adalah kondisi yang dalam istilah medis disebut dispepsia. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, dispepsia adalah rasa sakit atau ketidaknyamanan yang terjadi saat sistem pencernaan memproses makanan.

“Dispepsia merupakan sekumpulan gejala gangguan pencernaan yang terjadi di saluran pencernaan atas, dengan keluhan berupa nyeri hingga rasa terbakar di area ulu hati (epigastrium), perut terasa penuh, cepat kenyang, mual, bahkan muntah,” jelas spesialis penyakit dalam konsultan hati dan saluran cerna Mayapada Hospital Surabaya, dr Gunady Wibowo R., SpPD-KGEH, dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.

Gejala maag sering muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah makan. Biasanya, lambung membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima jam untuk mencerna makanan sebelum diteruskan ke usus kecil.

Selama proses tersebut, pankreas dan kantung empedu melepaskan enzim serta empedu untuk membantu memecah makanan, tepat di area yang sama dengan lokasi nyeri gangguan pencernaan yang sering dirasakan.

“Maag ini umumnya disebabkan oleh iritasi pada lambung akibat pola makan yang tidak teratur, stres berlebihan, atau konsumsi makanan dan minuman tertentu yang terlalu pedas, asam, atau berlemak,” kata Spesialis Penyakit Dalam dr Imelda Maria Loho, SpPD.

2. GERD

GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan. Gejalanya meliputi sensasi terbakar di dada (heartburn), rasa asam atau pahit di mulut, nyeri dada, sensasi mengganjal di tenggorokan, kesulitan menelan, serta perut kembung.

“Kondisi ini disebabkan oleh melemahnya otot di bagian bawah kerongkongan (lower esophageal sphincter/LES), sehingga asam lambung naik dan menyebabkan iritasi,” jelas dr Gunady.

Berbagai faktor yang dapat memicu GERD antara lain:

* Obesitas: Kondisi ini meningkatkan tekanan dan volume di perut yang memengaruhi LES, seperti pada kehamilan
* Kehamilan: Tekanan dan volume perut bisa mendorong, meregangkan, dan melemahkan otot diafrahma yang menopang Lower Esophageal Sphincter (LES) atau otot di bawah kerongkongan.
* Usia: Orang berusia 50 tahun dan lebih tua lebih besar kemungkinannya mengalami GERD.
* Konsumsi obat-obatan tertentu: Obat-obatan seperti benzodiapedin (sejenis obat penenang), NSAID (nonsteroidal anti-inflammatory drugs) atau obat antiinflamasi, seperti aspirin dan ibuprofen bisa memiliki efek relaksasi pada LES.
* Gastroparesis: Kondisi otot-otot di lambung tidak menggerakkan makanan sebagaimana mestinya agar bisa dicerna).
* Hernia hiatus: Kondisi bagian atas perut menekan ke atas melalui lubang di diafragma ke dalam rongga dada.
* Faktor lain: Kebiasaan langsung berbaring setelah makan serta riwayat operasi di area dada dan perut bagian atas.

GERD cenderung menimbulkan sensasi terbakar di dada atau tenggorokan, terutama saat berbaring atau tidur setelah makan. Sementara itu, maag umumnya ditandai dengan nyeri atau rasa kembung yang lebih terfokus pada area perut, terutama setelah makan.

3. Gastritis

Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung, yaitu lapisan pelindung berupa lendir yang melapisi dinding lambung. Ketika lapisan pelindung ini melemah atau mengalami kerusakan, cairan pencernaan dapat merusak jaringan lambung dan menyebabkan peradangan.

Menurut dr Gunady, penyakit ini umumnya ditandai dengan nyeri yang terasa panas atau perih di ulu hati, perut kembung, mual dan muntah, nafsu makan menurun, cegukan, serta cepat merasa kenyang.

Beberapa faktor risiko gastritis antara lain:

* Infeksi bakteri: Infeksi bakteri yang disebut Helicobacter pylori,adalah salah satu infeksi manusia yang paling umum di seluruh dunia. Tapi, hanya sebagian orang yang terinfeksi yang mengalami gastritis atau gangguan saluran pencernaan bagian atas lainnya.
* Penggunaan obat pereda nyeri secara teratur: NSAID dapat menyebabkan gastritis akut dan gastritis kronis
* Usia lanjut: Orang lanjut usia memiliki peningkatan risiko gastritis karena lapisan lambung cenderung menipis seiring bertambahnya usia.
* Konsumsi alkohol berlebihan: Alkohol dapat mengiritasi dan merusak lapisan lambung. Hal ini membuat lambung lebih rentan terhadap cairan pencernaan.

Diagnosis Penyakit Lambung

Jika gejala gangguan lambung tidak kunjung membaik, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai. Pada kondisi tertentu, terutama jika gejala semakin memburuk atau sering kambuh, dokter dapat merekomendasikan prosedur endoskopi.

Endoskopi bertujuan untuk memeriksa saluran pencernaan menggunakan endoskop, yaitu selang fleksibel yang dilengkapi kamera di ujungnya. Melalui alat ini, dokter dapat melihat kondisi esofagus, lambung, dan bagian saluran cerna lainnya secara langsung melalui layar monitor.

“Dari hasil pemeriksaan, dokter dapat menentukan pengobatan yang paling tepat. Pada kasus gastritis yang sering kambuh, endoskopi juga bisa membantu mencari penyebab lain, misalnya penyakit radang usus,” kata Spesialis Penyakit Dalam dr Muhamad Yugo Hario Sakti Dua, SpPD-KGEH.

(sumber: detik.com)

SultengTerkini

Sering Dianggap Sama, Ini Bedanya Sakit Maag, GERD dan Gastritis yang Wajib Dipahami