FILIPINA– Seorang putra walikota di Filipina telah dimasukkan ke dalam daftar buronan paling dicari Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat (AS). Dia diburu terkait dugaan penipuan terhadap sekitar 2.000 investor dengan kerugian lebih dari USD650 juta (lebih dari Rp11,5 triliun).
Rey E. Grabato II adalah putra Wali Kota Mina, Rey P. Grabato. Ibunya, Lydia Encarnacion Grabato, juga pernah menjabat sebagai wali kota di wilayah Filipina tersebut.
FBI menawarkan hadiah hingga USD150.000 (Rp2,6 miliar) untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Rey E. Grabato II, mantan presiden sekaligus pemilik mayoritas National Realty Investment Advisors LLC atau NRIA.
Grabato diburu atas tuduhan pihak berwenang federal AS terkait penipuan sekuritas dan penipuan melalui komunikasi elektronik, serta konspirasi untuk melakukan penipuan terhadap Amerika Serikat terkait masalah perpajakan. Mengutip laporan dari Philippine Daily Inquirer, Ahad (16/8/2026),
Grabato dituduh terlibat dalam skema yang menipu sekitar 2.000 investor, termasuk ratusan orang di New Jersey, antara Februari 2018 hingga Januari 2022. Jaksa federal AS menyebut operasi tersebut sebagai skema Ponzi senilai USD650 juta.
Grabato dan tersangka lain; Thomas Nicholas Salzano, diduga menggunakan pernyataan palsu dan menyesatkan untuk membujuk orang-orang agar berinvestasi di NRIA Partners Portfolio Fund I LLC, sebuah dana investasi real estate yang dikelola oleh NRIA.
Jaksa menyatakan bahwa perusahaan tersebut menjalankan kampanye pemasaran nasional yang agresif, yang melibatkan ribuan email serta iklan televisi, radio, papan reklame, dan presentasi bagi investor.
Para investor diduga dibuat percaya bahwa NRIA memiliki kondisi keuangan yang sehat dan menghasilkan keuntungan besar.
Jaksa menyebutkan bahwa kenyataannya perusahaan tersebut hanya menghasilkan sedikit atau bahkan tidak ada keuntungan sama sekali, serta bergantung pada dana dari investor baru untuk melakukan pembayaran kepada investor lama.
Grabato dan pihak-pihak yang diduga bersekongkol dengannya juga dituduh menyalahgunakan dana investor senilai jutaan dolar AS.
Skema Pajak Terpisah
Grabato juga dituduh terlibat dalam skema terpisah untuk menghalangi upaya Internal Revenue Service (IRS)—otoritas pajak AS—dalam menagih kewajiban pajak tertunggak senilai sekitar USD26 juta kepada pemerintah AS.
Menurut FBI, dugaan skema pajak tersebut berlangsung dari bulan November 2007 hingga Agustus 2022. Surat perintah penangkapan federal untuk Grabato diterbitkan pada 12 Oktober 2022, setelah dia didakwa di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik New Jersey di Newark.
Surat dakwaan tersebut mencatat bahwa pada saat itu Grabato berasal dari Hoboken, New Jersey, dan Filipina. Dia masih buron setelah dakwaan tersebut diajukan, sementara Salzano ditangkap pada bulan Oktober 2022.
Menurut FBI, Grabato juga pernah menggunakan nama Rey Encarnacion Grabato II, Rey Grabato II, dan Rey Li Encarnacion Grabato.
Grabato bergabung dengan individu lain yang memiliki kaitan dengan Filipina dalam daftar “Most Wanted Fraudsters (Daftar Buronan Penipu Paling Dicari) milik FBI. Daftar ini diluncurkan oleh biro tersebut pada bulan Juni 2026 untuk menyoroti para buronan yang dituduh atau telah divonis bersalah atas tindak pidana penipuan berskala besar.
Salah satunya adalah Michael Lizaso Marasigan, seorang warga negara ganda Filipina dan AS yang memiliki kaitan dengan Guam dan Filipina.
Marasigan divonis bersalah pada bulan Mei 2025 atas dakwaan yang mencakup perjudian ilegal, pencucian uang, dan penipuan melalui sarana komunikasi elektronik.
Turut masuk dalam daftar tersebut adalah pasangan suami-istri John Michael Dimitrion dan Julieanne Baldueza Dimitrion, yang mengaku bersalah pada tahun 2009 atas keterlibatan dalam skema penipuan hipotek di Hawaii.
Menurut FBI, mereka tidak hadir saat pembacaan vonis pada bulan Juli 2010 dan hingga kini masih berstatus buron. FBI menyusun daftar pelaku penipuan yang paling dicari pada bulan Juni sebagai bagian dari peningkatan fokus untuk melacak buronan kasus penipuan kelas kakap.
Siapa pun yang memiliki informasi mengenai Grabato diminta untuk menghubungi kantor FBI setempat atau kedutaan besar maupun konsulat AS terdekat.
(sumber: sindonews.com)








