Jumat, 21 Agustus 2026
BREAKING

Hasil Survei, 64% Warga AS Tolak Dukung Kinerja Trump

PULUHAN ribu orang saat berunjuk rasa di kota besar Amerika Serikat menuntut kebijakan Presiden Donald Trump. REUTERS/Caitlin Ochs

WASHINGTON– Tingkat dukungan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah merosot ke titik terendah selama masa jabatannya seiring meningkatnya kekhawatiran publik mengenai perang berkepanjangan dengan Iran serta dampak ekonominya. Data ini menurut jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos.

Hanya 33% warga Amerika yang disurvei menyatakan mendukung kinerja Trump selama menjabat, sementara 64% menyatakan tidak mendukung.

Angka ini turun dari 35% dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos yang rampung pada awal Agustus dan menandai tingkat dukungan terendah sejak dimulainya masa jabatan kedua Trump.

Angka tersebut juga menyamai tingkat dukungan terendah yang pernah tercatat selama masa jabatan pertamanya, yaitu pada Desember 2017. Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025 dengan dukungan dari kurang dari separuh warga Amerika atas kinerjanya.

Popularitasnya kemudian menurun di tengah perang dengan Iran, yang bermula dari serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari.

Konflik ini telah mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz—jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia—sehingga berkontribusi pada kenaikan harga bensin di Amerika Serikat.

80% Memperkirakan Perang akan Berlangsung Lama

Jajak pendapat tersebut menunjukkan adanya skeptisisme luas terhadap prediksi awal Trump bahwa perang akan berlangsung singkat.

Sekitar 80% responden memperkirakan keterlibatan AS di Iran akan terus berlanjut “untuk jangka waktu yang lama.” Pandangan ini melintasi batas partai, mencakup 87% pendukung Demokrat dan 71% pendukung Republik. Hanya 16% warga Amerika yang meyakini konflik tersebut kemungkinan akan berakhir dalam beberapa pekan.

Trump awalnya memprediksi perang hanya akan berlangsung beberapa minggu, namun hampir enam bulan setelah serangan gabungan AS-Israel yang pertama, Iran terus melawan tekanan AS dan tetap membatasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz secara signifikan.

Sang presiden kerap berganti sikap antara melontarkan ancaman serangan militer besar-besaran yang baru dan menyatakan kesepakatan dengan Teheran mungkin dapat dicapai.

Dukungan publik terhadap kampanye militer ini tetap terbatas. Hanya satu dari lima warga Amerika yang disurvei berpendapat perang dengan Iran sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Bahkan di kalangan pendukung Republik, hanya sekitar separuhnya yang menganggap perang tersebut layak dilakukan.

Harga Bensin Menambah Tekanan Politik

Perang yang berkepanjangan ini juga mempersulit salah satu janji politik domestik utama Trump: menjaga harga tetap terkendali.

Saat berpidato dalam sebuah rapat umum politik di Garden City, New York, pada hari Jumat, Trump mendesak warga Amerika untuk menerima biaya bahan bakar yang lebih tinggi sebagai konsekuensi yang tak terelakkan demi mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Menurut Trump, membayar “sedikit lebih mahal untuk bensin” sepadan dengan upaya memastikan bahwa “negara yang sangat jahat” tidak dapat memiliki senjata nuklir.

Dampak ekonomi dari perang tersebut kian menjadi perhatian politik bagi Partai Republik menjelang pemilihan umum sela pada 3 November, saat partai itu akan berupaya mempertahankan keunggulan tipis mereka di Dewan Perwakilan Rakyat.

(sumber: sindonews.com)

SultengTerkini

Hasil Survei, 64% Warga AS Tolak Dukung Kinerja Trump