Tolak Danau Poso Dikeruk, Warga Kirim Pesan ke JK Lewat Aksi Teater

photo6253469441379641431
ALIANSI Penjaga Danau Poso Rabu (25/7/2018) menggelar aksi teater budaya menyampaikan pesan kepada Jusuf Kalla yang menolak rencana pengerukan Danau Poso untuk kepentingan perusahaannya. FOTO: IS

SultengTerkini.Com, POSO– PT Poso Energy, perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla (JK) akan mengeruk mulut Danau Poso sedalam 2-3 meter, selebar 40 meter, sepanjang 12,8 kilometer untuk kepentingan memutar turbin air perusahaannya.

Para nelayan, petani dan warga dari desa-desa di sekitar Danau Poso menggelar aksi teater budaya menyampaikan pesan menolak rencana tersebut.

Aksi teater budaya bersamaan dengan kehadiran Wapres JK di Tentena serta pelaksanaan Konven Pendeta GKST di Banua Mpogombo.

Hari Rabu 25 Juli 2018 sekitar pukul 13.00 Wita sekitar 60 warga dari desa-desa di pinggiran Danau Poso yang tergabung dalam Aliansi Penjaga Danau Poso melakukan Tradisi Montibu, yakni memukul-mukul air menggunakan tongkat bambu dari atas perahu untuk menangkap ikan.

Namun aksi kali ini bukan untuk menangkap ikan, tetapi mengingatkan warga, para petinggi negara dan daerah ini untuk menjaga Danau Poso dari ancaman kerusakan.

Memulai aksi budaya dari lokasi situs Watu Mpangasa Angga, perahu-perahu yang dilengkapi bendera dengan hastag #PenjagaDanauPoso bergerak menuju jembatan tua Pamona dengan diiringi Karambanga, musik khas Poso.

Sepanjang perjalanan yang berjarak sekitar 2,5 kilometer itu, teriakan Oohaiyo, dijawab seruan Pakaroso terus terdengar.

Perahu Yanis Moento sebagai pemimpin rombongan berjalan paling depan sambil terus memukul (montibu) air.
Aksi Montibu bertepatan dengan dua momen besar, yang pertama kedatangan wakil presiden Jusuf Kalla dan kedua konvensi pendeta GKST yang dipusatkan di Banua Mpogombo, tepat di pinggir Danau Poso. Montibu, menurut Hajai Ancura dari Aliansi Penjaga Danau Poso untuk mengingatkan para pemimpin agama untuk menjaga Danau Poso.

“Saya bangga. Saya terharu, masyarakat menyambut aksi kita begitu antusias. Ini artinya mereka mendukung kita. Namun ini bukan aksi terakhir, kita masih akan terus berjuang dengan jalan kebudayaan untuk mempertahankan danau kita,” katanya dalam rilisnya yang diterima SultengTerkini.Com, Rabu malam.

Sementara itu Panca, anggota Aliansi Penjaga Danau Poso mengatakan, Montibu kali ini juga mengingatkan masyarakat pentingnya menjaga tradisi warisan leluhur yang membuat Danau Poso tetap bertahan seperti saat ini.

Aksi Montibu dan jalan kaki ini merupakan bagian dari penolakan terhadap rencana pengerukan mulut Danau Poso.

Pengerukan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air turbin-turbin raksasa dari tiga pembangkit listrik, pertama untuk Poso 2 yang berkapasitas 169 MW dan Poso 1 berkapasitas 120 MW, adapun Poso 3 rencananya segera dibangun dengan kapasitas 300 MW.

Penolakan atas rencana ini sebab akan menghilangkan beberapa tradisi yang hidup di dalamnya. Diantara tradisi yang hilang itu adalah Waya Masapi alias alat tangkap Sidat yang sudah dikenal masyarakat Pamona sejak seratusan tahun lalu.

Tradisi kedua yang terancam hilang adalah Monyilo, yakni menombak ikan pada malam hari di area yang akan dikeruk itu.

Tradisi selanjutnya yang juga akan tamat adalah Mosango. Tradisi Mosango adalah menangkap ikan beramai-ramai menggunakan alat yang terbuat dari rajutan lidi enau atau bambu yang diikat dengan rotan bernama Sango.

Tradisi ini hidup di wilayah dimana ikan-ikan datang ke pinggir danau saat air naik dan terjebak saat air turun. Dalam rencana pengerukan ini, ada barter yang diberikan perusahaan milik Jusuf Kalla kepada pemerintah kabupaten Poso yang sudah mendukung pengerukan ini, yakni membangun taman air di kawasan seluas 26 hektar yang dikenal oleh masyarakat Tentena sebagai Kompo Dongi.

Di lokasi inilah tradisi Mosango dilaksanakan turun temurun. Seiring hilangnya tradisi itu, hilang pula mata pencaharian nelayan kecil yang menggantungkan hidup dari Monyilo dan Waya Masapi.

Selain itu masih ada lagi kelompok masyarakat yang akan kehilangan pencaharian, yakni penambang pasir tradisional di Kelurahan Petirodongo. CAL

Komentar