Ratusan Warga Salat Idul Adha di Halaman Unismuh Palu

-Kota Palu, Utama-
oleh

PALU– Ratusan warga melaksanakan Salat Idul Adha 1446 Hijriah di halaman kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Jalan Hang Tuah Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (6/6/2025) pagi.

Bertindak sebagai Khatib Salat Idul Adha yakni Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulteng, Muhammad Khairil, sementara Imam adalah Ustaz Bahrul.

Adapun tema khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh Khatib Muhammad Khairil yakni “Ibrah di Balik Perjalanan Suci Keluarga Nabiullah Ibrahim AS”.

Dalam khutbahnya dia mengatakan, diantara beberapa pelajaran penting dan penuh hikmah yang Nabi Ibrahim ajarkan untuk anak dan keluarganya juga bagi semua yakni pertama, pencarian ketuhanan dari akal menuju keyakinan, bintang, bulan, matahari.

Disaat malam telah menjadi gelap, dia melihat bintang, lalu dia berkata “inilah Tuhanku, bercahaya nan jauh disana. Namun, tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata saya tidak suka pada yang tenggelam.

Ketika rembulan sempurna dalam purnama, Nabiullah Ibrahim seolah berbisik, jangan-jangan inilah Tuhan-Ku, cahayanya begitu indah nan cantik.

Namun seiring waktu purnama pun sirna mengikuti siklus peredaran bulan, bumi dan bintang. Dan pada ayat selanjutnya, Nabi Ibrahim AS bersaksi melalui firman Allah SWT yang artinya bahwa Sungguh aku menghadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (QS. 6/Al-An’Aam: 79).

Kemudian kedua, Kemuliaan Nabi Ibrahim Dalam Menegakkan Nilai Tauhid.

Nabi Ibrahim AS hidup di zaman kezaliman Raja Namrud. Raja penyembah para patung. Begitu berkuasa dan menempatkan dirinya bagai Tuhan.

Atas kezalimannya, dia lalu membunuh semua anak lelaki yang lahir terkecuali Nabi Ibrahim AS.

Dialektika yang menarik tatkala Nabi Ibrahim berhadapan dengan Namrud diabadikan dalam Al Quran Surah Al Baqarah 258 yang artinya Tuhanku yang menghidupan dan mematikan.

Namrud mengatakan, saya bisa menghidupkan dan mematikan.

Ibrahim mengatakan: Sesungguhnya Tuhanku menerbitkan matahari dari timur, terbitkanlah dia dari barat.

Namrud pun terdiam dan tak mampu menjawab lagi. Karena tak mampu lagi menjawab, maka Namrud pun memerintahkan untuk membakar Nabi AS Ibrahim.

Atas kuasa Allah SWT yang tentu saja jauh lebih berkuasa dari Namrud, maka turunlah perintah kepada api politik dan kekuasaan, mungkin saja bisa mengubah fakta dari benar menjadi salah, hitam menjadi putih.

Bahkan politik dan kekuasaan, sering menghantarkan seorang kawan menjadi lawan.

“Apalah arti sahabat dan saudara bagi mereka yang penuh ambisi atas kuasa,” tuturnya.

Kebenaran politik sering disalahgunakan atas nama kepentingan. Di balik kepentingan, akan selalu ada hasrat ambisi atas kuasa.

Akhirnya budi pun berbalas tuba. Kacang pun lupa akan kulit, kebaikan hanya sebatas kenangan masa lalu yang terabaikan.

Ketiga, Kemuliaan Nabi Ibrahim AS dalam doa-doa suci.

Doa ini dilapazkan oleh Nabi Ibrahim AS selama bertahun tahun. Bahkan salah satu riwayat menyebutkan bahwa kurang lebih 80 tahun Nabi Ibrahim menunggu hingga doanya diijabah oleh Allah SWT, hingga lahirlah Nabi Ismail AS.

“Mari kita merenung sejenak. Sekelas Nabi saja, yang berdoa dengan penuh pengarapan, terkabul doanya setelah puluhan tahun,” tuturnya.

Terakhir, di balik kemuliaan berkurban melalui mimpinya, Nabi Ibrahim AS telah berhasil tidak hanya mengubah anaknya, bukan hanya keluarganya, tapi juga telah mengubah dunia, telah menggugah jutaan ribu manusia di seluruh penjuru dunia untuk tunduk dan taat pada Ilahi Rabbi, Allah Azza Wajallah.

Dia menuturkan, Nabi Ibrahim juga anaknya Nabi Ismail, telah mempertontonkan tingkat ketaatan yang begitu mulia, agung dan sempurna.

Menurutnya, inilah perpaduan antara iman dan amal yang mewujud dalam ketaatan kepada Allah SWT.” “Kesempurnaan tauhid yang harusnya menjadi teladan bagi kita semua,” tuturnya.

“Namun bagaimana mungkin, kita mengajarkan pengorbanan dan pengabdian Ilahiah layaknya Nabi Ibrahim, sementara untuk berkurban saja kita enggan dan tak peduli,” katanya.

Bagaimana pun dia berharap anak-anak yang terlahir saleh dan salehah, sementara diri sendiri tak paham bagaimana memberi teladan kepada anak-anaknya.

“Bukankah buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya? Mampukah kita satukan irama kata dan perbuatan? Seperti halnya Nabi Ibrahim AS yang mampu menunjukkan, membuktikan dan menjadi teladan bagi anaknya Nabiullah Ismail.

Kemudian, keteladanan kedua nabi itu telah mengubah dunia dan menggugah hati dan iman umat Islam untuk bergerak bersama, sinergi satu energi Berkurban Hari ini. Menarik untuk jadi renungan, “belo rapovia, belo rakava”, baik dibuat, baik yang didapat. Siapa yang menanam, maka dia yang menuai.

Your future depent what you do in the present. Masa depan kita, ditentukan dari investasi dan saham budi baik kita hari ini sebagai modal sosial untuk menentukan nama baik kita di hari esok,” kata Muhammad Khairil yang juga mantan Dekan Fisip Untad Palu itu.

Usai Salat Idul Adha, para jemaah berjabat tangan, saling maaf memaafkan. CAL

Komentar