PALU- Persatuan Wartawan Indonesia Sulawesi Tengah (PWI Sulteng) menghadirkan pimpinan Bank Sulteng, pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta pelaku UMKM sukses dalam kegiatan bertajuk literasi media, komunikasi dan peluang UMKM di era digital, Kamis (15/1/2026).
Kegiatan ini adalah upaya PWI Sulteng dan Bank Sulteng dalam membangun UMKM berdaya saing melalui literasi media dan komunikasi digital.
Hadir dalam kegiatan ini Kepala Divisi Kredit Bank Sulteng, Firmansyah Aziz; Asisten Manager OJK Sulteng, Imam Aliani Putra; dan Ketua Bidang UMKM BPD HIPMI Sulteng sekaligus Direktur Breaktime, Wahyudy Effendy.
Selain ketiga pembicara, turut hadir sejumlah pelaku UMKM di Kota Palu, para wartawan serta mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Palu.
Dalam paparannya, Kepala Divisi Kredit Bank Sulteng, Firmansyah menuturkan bahwa Bank Sulteng memberi kontribusi positif dalam mengembangkan sektor UMKM. Hal ini juga diamanahkan Gubernur Sulteng serta bupati dan walikota sebagai pemegang saham Bank Sulteng.
Tak hanya dari segi pembiayaan, lanjut Firmansyah, Bank Sulteng senantiasa memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM, baik dari segi pengembangan kapasitas maupun promosi produk-produk unggulan Sulteng di tingkat nasional.
“Di PRJ (Pekan Raya Jakarta), disana ada stan Bank Sulteng. Disitu kita promosikan produk unggulan Sulteng seperti batik atau bawang goreng,” jelas Firmansyah.
Menurut dia, UMKM Sulteng umumnya sangat visible, namun belum bankable. Artinya, produk-produk UMKM Sulteng memiliki potensi yang besar jika dikembangkan. Namun, pencatatan keuangan sering diabaikan, sehingga sulit mendapat pendanaan dari perbankan.
Terkait dengan produk digital, tambah Firmansyah, saat ini Bank Sulteng terus mengembangkan layanan digitalnya.
“Sekarang, Bank Sulteng sudah memiliki layanan QRIS. Gerai ATM tarik dan setor tunai juga sudah lengkap,” urainya.
Kantor cabang pembantu maupun agen Laku Pandai juga sudah banyak tersedia di pelosok-pelosok daerah, sehingga jangkauan Bank Sulteng sudah cukup luas di Bumi Tadulako.
Senada diungkap Ketua Bidang UMKM BPD HIPMI Sulteng, Wahyudy Effendy. Berdasarkan data BPS, UMKM yang telah go digital masih sangat sedikit. Padahal, di era sekarang ini, marketing digital adalah sarana utama meningkatkan penjualan.
“Banyak yang pesimis dalam menghadapi tahun 2026 ini. Tapi, bagi yang tahu caranya, pasti memandang tahun ini dengan optimis,” jelas Wahyudy.
Wahyudy mengatakan, para pelaku UMKM di Sulteng wajib memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya.
Sementara itu, Asisten Manager OJK Sulteng, Imam Aliani Putra menuturkan, banyak masyarakat terjebak dengan pinjaman online ilegal maupun investasi ilegal.
“Bisa kita lihat di berita-berita, ada yang bunuh diri karena pinjol. Yang terbaru, kasus OMC yang banyak korbannya dari Parigi Moutong. Itu investasi ilegal,” tutur Imam.
Selain pinjol dan investasi ilegal, banyak masyarakat juga terjebak dengan permainan judi online. Bahkan, judi online ini menjadi candu yang mengalahkan candu narkoba.
“Ini berbahaya sekali. Masyarakat jangan mau terjebak dengan segitiga iblis ini,” tegasnya.
OJK, lanjut Imam, telah menutup 1.811 investasi ilegal di Indonesia, 11.166 pinjol ilegal, 251 gadai ilegal, 4.486 website atau konten ilegal dan 2.422 nomor telpon yang digunakan untuk penipuan.
“Kerugian masyarakat dari tiga ini mencapai Rp142 triliun,” terangnya.
Wartawan senior PWI Sulteng, Muchsin Sirajuddin mengatakan, kegiatan-kegiatan yang memberi dampak positif bagi tumbuh kembang UMKM di Sulteng harus terus digalakkan.
UMKM Sulteng memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. GUS














Komentar