DONGGALA– Momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan menyambut Hari Kelautan Sedunia yang jatuh pada 8 Juni 2026 mendatang diwarnai dengan aksi nyata konservasi di Kabupaten Donggala.
Wakil Bupati (Wabup) Donggala, Taufik M Burhan menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Kelompok Kerja (Pokja) Program Solusi Donggala yang dirangkaikan dengan Aksi Konservasi Pelepasan Tukik di Balai Belajar Pesisir, Pantai Baturoko, Desa Lalombi, Kecamatan Banawa Selatan, Jumat (5/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Proyek Solusi yang digagas melalui kemitraan antara Pemerintah Indonesia (Bappenas dan Kementerian Kelautan), Pemerintah Jerman melalui The Federal Ministry for The Environment, Nature Conservation, Nuclear Safety and Consumer Protection (BMUV) yang dilakukan oleh konsorsium yang terdiri GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit), ICRAF, SNV dan Yayasan Kehati dengan menggandeng Yayasan Bone Bula yang berfokus pada penguatan tata kelola wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Wabup Taufik menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam upaya pembangunan daerah berwawasan lingkungan.
“Kami berterima kasih kepada GIZ, Yayasan Bonebula, komunitas, dan para penggiat alam lainnya yang sudah berkontribusi. Pemerintah daerah tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa bantuan dari para pemangku kepentingan dan elemen masyarakat yang punya komitmen untuk membangun daerah ini,” ujarnya.
Dia menegaskan, seluruh ikhtiar yang dilakukan hari ini selaras dengan visi Kabupaten Donggala Maju, Sejahtera, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan.
“Sustainable, keberlanjutan inilah yang menjadi perhatian kita,” tegasnya.
Wabup berharap Program Solusi dapat terus dilanjutkan meskipun kelak tidak lagi didanai oleh Pemerintah Jerman melalui GIZ.
Dia juga mendorong agar dari forum rakor ini lahir rekomendasi konkret yang dapat dijadikan acuan pemerintah daerah, termasuk penyusunan peta konservasi yang belum dimiliki Kabupaten Donggala, sehingga dapat diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Peraturan Daerah.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Kewilayahan Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah, Dony Iwan Setiawan yang hadir mewakili Kepala Bappeda Provinsi menekankan, pelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
Dia mendorong masyarakat yang selama ini mendapatkan pendampingan program agar dapat secara mandiri melanjutkan upaya konservasi setelah program berakhir.
Dony juga menyoroti potensi besar kawasan pesisir Donggala sebagai destinasi wisata bahari edukatif, tidak hanya menawarkan keindahan pantai, tetapi juga wisata edukasi konservasi penyu yang dapat menopang perekonomian masyarakat setempat.
“Kondisi pesisir pantai Donggala ini sangat luar biasa. Kedepan, desa-desa di kawasan ini bisa menjadi tujuan wisata edukasi terkait budidaya dan konservasi penyu,” ungkapnya.
Dia turut menegaskan pentingnya penguatan kelembagaan dan regulasi sebagai fondasi keberlanjutan program pasca-pendampingan.
“Kami sangat berharap keberlanjutan ini ke depan bisa terus lestari, dengan penguatan kelembagaan dan regulasi sebagaimana yang disampaikan Pak Wakil Bupati,” pungkasnya.
Di akhir kegiatan, wabup dan seluruh peserta kegiatan turut serta dalam aksi pelepasliaran 25 tukik penyu hijau (Chelonia Mydas) ke habitat aslinya. HAL














Komentar