KATHMANDU– Setidaknya 157 orang tewas setelah banjir bandang melanda distrik Rasuwa di Nepal yang berbatasan dengan Tibet, menyapu desa-desa dan merusak infrastruktur dalam hitungan detik pada hari Rabu. Bencana ini juga menyebabkan hampir 500 orang lainnya, termasuk ratusan warga India, hilang.
Rekaman kamera pengawas atau CCTV dari Pelabuhan Gyirong di Tibet memperlihatkan banjir bandang dahsyat menerjang kawasan tersebut, lalu melintasi perbatasan menuju distrik Rasuwa di Nepal, menyebabkan kerusakan luas di sepanjang Sungai Bhote Koshi.
Video tersebut memperlihatkan aliran air berlumpur, bebatuan, dan puing-puing yang datang deras dari hulu dan dengan cepat membanjiri area parkir, menyapu kendaraan serta menimbulkan kepulan debu dan kabut tebal.
“Ini sungguh mengerikan. Rekaman CCTV dari Pelabuhan Gyirong di Tibet, China, yang berhadapan langsung dengan distrik Rasuwa di Nepal. Banjir bandang ini menghantam lokasi tersebut terlebih dahulu dan kemudian menyebabkan kehancuran hebat di Nepal. Sulit membayangkan ada orang yang bisa selamat dari kejadian ini. Doa bagi semua yang terdampak,” bunyi keterangan video yang diunggah akun @iNikhilsaini di platform X.
Rekaman tersebut memperlihatkan orang-orang yang panik dan berlarian sebelum banjir menerjang mereka dalam hitungan detik, mengubah situasi di fasilitas perbatasan itu menjadi kacau seketika.
Menurut keterangan para pejabat, banjir tersebut mengalir deras melalui Sungai Bhote Koshi sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat dari arah Tibet, berdampak pada distrik Rasuwa dan Dhading yang berbatasan dengan Tibet serta distrik Nuwakot di barat daya Kathmandu.
Menurut Dewan Pariwisata Nepal, setidaknya 384 wisatawan—termasuk 291 warga asing dan 93 warga negara Nepal—dilaporkan hilang dari wilayah yang terdampak banjir tersebut.
“Visual dari banjir di Rasuwa, Nepal ini sungguh mengerikan. Skala kerusakannya tampak tidak nyata, hampir seperti adegan dalam film bencana. Seluruh wilayah Himalaya perlu secara serius mengupayakan sistem peringatan dini yang lebih baik untuk menghadapi banjir bandang semacam ini,” imbuh akun @iNikhilsaini.
Para pelancong tersebut mencakup 105 wisatawan India, 37 warga India perantauan (NRI), serta wisatawan lainnya yang berasal dari Amerika Serikat, Malaysia, Inggris, Afrika Selatan, Australia, dan Belanda.
Setidaknya 59 orang di antara warga India tersebut merupakan peziarah untuk perjalanan Kailash Manasarovar Yatra, menurut keterangan agen perjalanan Samrat Tours and Travel.
Angkatan Darat Nepal menyatakan bahwa helikopter dan personel tanggap bencana telah dikerahkan ke lokasi yang terdampak.
Video yang dibagikan oleh Kepolisian Nepal dan pihak lain di media sosial memperlihatkan derasnya aliran air berlumpur yang menerjang lembah-lembah pegunungan di distrik-distrik negara Himalaya yang berbatasan dengan Tibet tersebut.
“Kami belum mengetahui secara pasti tingkat kerusakannya, namun banjir ini berskala besar dan kemungkinan telah merusak banyak permukiman,” kata juru bicara Kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, kepada AFP, Kamis (27/8/2026).
“Kami telah mengimbau warga yang tinggal di dekat bantaran sungai untuk mengungsi…dan telah mengerahkan seluruh sumber daya kami,” ujarnya.
Sekadar diketahui, hujan monsun yang turun antara bulan Juni hingga September secara rutin memicu banjir dan tanah longsor yang mematikan di seluruh wilayah Asia Selatan. Pada bulan Juli tahun lalu, 17 orang dilaporkan hilang akibat tanah longsor di dekat Pelabuhan Gyirong.
(sumber: sindonews.com)








