TEHERAN– Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev mengatakan Selat Hormuz telah menjadi senjata Iran yang tidak kalah ampuhnya dengan senjata nuklir. Menurutnya, Teheran juga memiliki senjata “termonuklir” cadangan, yaitu Selat Bab el-Mandab.
Medvedev menyampaikan hal itu kepada para jurnalis di Teheran, tempat dia menghadiri prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari Sabtu.
“Iran telah menemukan senjata lain yang tidak kalah kuatnya dari senjata nuklir, yaitu Selat Hormuz, yang memiliki status internasional yang kompleks. Saya percaya Iran memiliki cadangan bukan hanya senjata nuklir, tetapi juga senjata termonuklir, dan ini diwakili oleh Selat Bab el-Mandeb,” kata Medvedev.
Dia menambahkan bahwa Selat Bab el-Mandeb dapat menciptakan situasi di mana semua pengiriman minyak akan diblokir.
“Dan semua negara yang mencari konflik di Timur Tengah harus mengingat hal ini,” ujarnya. Medvedev, yang pernah menjabat sebagai presiden dan perdana menteri Rusia, mengumumkan bahwa dia telah membahas dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian gagasan tentang platform negara-negara yang dikenai sanksi untuk melawan pembatasan “ilegal”.
“Saya percaya kita dapat terus bekerja ke arah ini. Kebetulan, ini adalah salah satu topik yang kami bahas dengan Presiden Pezeshkian selama pertemuan saya,” paparnya.
Menurut Medvedev, platform tersebut dapat mencakup China dan negara-negara lain selain Rusia dan Iran. Bagi Medvedev, proses mencapai kesepakatan akhir antara Iran dan Amerika Serikat akan sangat sulit.
“Memorandum of Understanding antara Iran dan Amerika Serikat meletakkan dasar untuk negosiasi lebih lanjut,” ujarnya, yang dilansir Russia Today, Ahad (5/7/2026).
“Sekarang ada dokumen, dan tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan akhir telah berlalu. Sejujurnya, saya pikir proses ini akan sangat sulit. Akan sangat sulit untuk mencapai kesepakatan mengenai beberapa isu, termasuk, misalnya, alokasi dana untuk rekonstruksi Iran,” imbuh dia.
Lebih lanjut, orang kepercayaan Presiden Rusia Vladimir Putin ini menegaskan bahwa serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari sama sekali tidak beralasan. “[Karena] Iran tidak menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat,” katanya.
Dia mencatat bahwa Teheran sedang terlibat dalam negosiasi dengan Washington pada saat Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan tersebut.
Fakta ini, menurut Medvedev, menunjukkan erosi hukum internasional. Dia juga menceritakan bahwa sebelum permusuhan dimulai pada akhir Februari, Presiden Putin telah mengusulkan peta jalan yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah program nuklir Iran secara damai.
AS dan Israel menyebut hal itu sebagai salah satu dalih untuk tindakan militer terhadap Republik Islam. “Saya pikir Iran telah mengatasi cobaan terberat ini dengan bermartabat,” kata Medvedev, seraya menambahkan bahwa meskipun beberapa bagian Teheran masih hancur, kehidupan di ibu kota Iran sebagian besar telah kembali normal.
(sumber: sindonews.com)








