Selasa, 18 Agustus 2026
BREAKING

Iran Pasang Sayembara: Tangkap Tentara AS Dapat Hadiah Rp534 Juta

WARGA mengibarkan bendera Iran dalam kampanye mendukung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, 29 April 2026. (AFP)

IRAN– Iran menawarkan hadiah sebesar 30.000 dollar AS atau sekitar Rp 534 juta bagi siapa pun yang berhasil menangkap atau membunuh tentara Amerika Serikat (AS).

Tawaran tersebut diumumkan langsung oleh Panglima Angkatan Darat Iran Amir Hatami. Iran bahkan menjanjikan hadiah dua kali lipat jika aksi tersebut dilakukan oleh seorang perempuan.

Hatami pada Ahad (16/8/2026) mengatakan program tersebut disusun setelah adanya banyak permintaan dari masyarakat untuk mendukung perang.

“Siapa pun yang membunuh atau menangkap dan menyerahkan personel militer Amerika yang menginvasi akan menerima hadiah setara 30.000 dollar AS,” kata Hatami, seperti dikutip The Telegraph.

Ia menambahkan hadiah tersebut akan dibayarkan oleh rakyat Iran. Menurut Hatami, perempuan Iran yang berhasil melakukan tindakan tersebut akan menerima imbalan dua kali lebih besar.

Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa senjata yang digunakan dalam operasi tersebut akan dibeli oleh militer dengan harga dua kali lipat dari nilai pasarnya dan dipajang secara permanen di sebuah museum khusus.

Meski tidak diketahui adanya pasukan darat Amerika yang saat ini berada di wilayah Iran, pernyataan tersebut tampaknya ditujukan kepada seluruh personel militer AS yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah.

Sejak perang dimulai pada akhir Februari, Iran disebut semakin mampu menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Sedikitnya 17 tentara AS dilaporkan tewas, seluruhnya di luar wilayah Iran, termasuk di pangkalan militer AS di Yordania dan Irak.

TUNTUTAN IRAN TERHADAP AS

Dalam pernyataannya, Hatami juga kembali menuntut agar militer AS meninggalkan Timur Tengah dan menutup seluruh pangkalannya di kawasan. Ia mengatakan bahwa AS tidak lagi memiliki izin untuk memasuki Teluk Persia, Teluk Oman maupun Selat Hormuz.

Sebelumnya pada Jumat (14/8/2026), Presiden AS Donald Trump berencana mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah berbulan-bulan gagal mengendalikan jalur pelayaran strategis tersebut. Pernyataan itu langsung ditolak Iran.

Para pejabat Iran menuduh Trump sedang berkhayal dan menegaskan Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kendali Teheran.

Hingga Jumat malam, lalu lintas pelayaran di selat tersebut dilaporkan hampir berhenti total. Iran sebelumnya secara efektif menutup Selat Hormuz pada awal perang. Teheran juga berulang kali menyatakan selat itu akan tetap berada di bawah kendalinya, yang dianggap sebagai garis merah bagi Washington.

Selain itu, Iran juga telah mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk kompensasi atas kerugian perang, sebelum membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

NEGOSIASI DAMAI MANDEK

Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan Trump pada Juni lalu sebenarnya menjadi kerangka awal bagi perundingan yang ditargetkan berlangsung selama 60 hari guna mengakhiri perang dan membatasi program nuklir Iran.

Namun tenggat waktu tersebut berakhir pada Senin (17/8/2026) dan secara praktis dianggap telah gagal, dengan kedua negara kini terlibat dalam adu ketahanan politik dan ekonomi.

Pemerintahan Trump juga disebut tengah mempertimbangkan berbagai opsi untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran agar kembali ke meja perundingan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan Washington akan menjatuhkan langkah-langkah baru terhadap Teheran yang belum pernah diterapkan sebelumnya.

(sumber: kompas.com)

SultengTerkini

Iran Pasang Sayembara: Tangkap Tentara AS Dapat Hadiah Rp534 Juta