Sabtu, 12 September 2026
BREAKING

Kekayaan 3.795 Miliarder Dunia Capai Rp264.325 Triliun, Setara 1.154 Kali Anggaran MBG

ILUSTRASI miliarder. dinosauriens.info

JAKARTA– Saat ini, total ada 3.795 miliarder di seluruh dunia, dan mereka menguasai kekayaan senilai USD15,1 triliun (Rp264.325,5 triliun). Bayangkan, jumlah tersebut hampir setengah dari ukuran perekonomian Amerika Serikat (AS) dan setara dengan 1.154 kali anggaran program makan bergizi gratis (MBG) di Indonesia.

Dari populasi dunia yang mencapai lebih dari 8 miliar orang, jumlah miliarder tersebut hanya membentuk bagian sangat kecil: sekitar 0,00005 persen, atau kira-kira satu dari setiap 2 juta orang hidup saat ini.

Namun, kelompok yang sangat kecil itu menguasai kekayaan senilai USD15,1 triliun, menurut data Billionaire Census 2026 dari Altrata.

Jumlah tersebut mendekati setengah ukuran perekonomian Amerika Serikat, yang mencapai USD32,5 triliun menurut Federal Reserve Bank of St. Louis, dan hampir 30 persen dari gabungan Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara G7 yang mencapai USD52,06 triliun menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Jika dibandingkan lagi dengan anggaran MBG di Indonesia akan lebih fantastis. Anggaran MBG terbaru, setelah dipangkas pemerintah, sekarang menjadi Rp229 triliun. Jadi, kekayaaan 3.795 miliarder di seluruh dunia setara 1.154 kali anggaran MBG (dengan kurs sekarang Rp17.505/USD).

Populasi miliarder tumbuh 8,2 persen pada 2025, laju pertumbuhan tercepat dalam lima tahun. Namun, pertumbuhan tersebut tidak terbagi secara merata. Altrata mencatat jumlah miliarder dunia mencapai 3.795 orang pada 2025. Kini terdapat 29 orang yang memiliki kekayaan lebih dari USD50 miliar.

Dalam laporan Altrata, mereka disebut “superbillionaires”. Secara bersama-sama, mereka menguasai USD4,1 triliun, atau 27,2 persen dari seluruh kekayaan miliarder. Namun, kurang dari satu dekade lalu, pada 2017, hanya 10 orang yang memiliki status tersebut dan mereka hanya menguasai 7,2 persen dari total kekayaan para miliarder.

Sebagian besar peningkatan kekayaan yang terkonsentrasi pada kelompok “superbillionaire” terjadi hanya dalam dua tahun terakhir. Pada 2023, kelompok tersebut menguasai 16,3 persen dari total kekayaan miliarder.

Daftar peringkat kekayaan publik menunjukkan sejumlah nama yang mendominasi kelompok tersebut, di antaranya Elon Musk, Larry Page, Sergey Brin, Jeff Bezos, Larry Ellison, Mark Zuckerberg, Jensen Huang, dan Warren Buffett.

Maeen Shaban, direktur riset dan analitik Altrata sekaligus salah satu penulis utama laporan tersebut, menunjuk satu faktor yang paling menonjol: kecerdasan buatan (AI). Altrata mengidentifikasi 150 perusahaan publik di seluruh dunia yang menjadi sumber kekayaan bagi sebagian besar miliarder.

Perusahaan-perusahaan tersebut kemudian dibagi menjadi dua kelompok: perusahaan yang melakukan investasi signifikan dalam AI sejak 2023 dan perusahaan yang tidak melakukannya.

Perusahaan yang berinvestasi dalam AI mengungguli kelompok lainnya sebesar 23 persen dalam pertumbuhan kapitalisasi pasar selama gabungan 2024 dan 2025. “Ratusan miliar telah disuntikkan ke sektor tersebut,” kata Shaban kepada Fortune, yang dilansir Kamis (10/9/2026).

Namun, dia mengingatkan agar angka tersebut tidak dianggap sebagai ukuran yang presisi karena sebagian miliarder membangun perusahaan AI secara langsung, sementara yang lain hanya memanfaatkan AI untuk memangkas biaya di sektor bisnis lainnya. “Ini adalah hal yang sangat, sangat rumit untuk dilakukan,” ujarnya.

Kesenjangan Geografis

AI bukan satu-satunya faktor yang membedakan para miliarder. Wilayah perkotaan juga memainkan peran. New York memperoleh 12 miliarder baru pada 2025, sehingga totalnya menjadi 164 miliarder di kota tersebut. Singapura dan San Francisco juga tumbuh dengan laju yang sama.

Hong Kong dan London menjadi dua-satunya kota dari 15 kota teratas yang kehilangan miliarder. Namun, tidak ada pola yang jelas mengenai mengapa jumlah miliarder meningkat di beberapa kota sementara menurun di kota lainnya.

“Dengan populasi yang sangat kecil seperti ini, sangat sulit menyebutnya sebagai sebuah tren,” kata Shaban. Dia mengatakan besarnya investasi AI di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor penarik. Namun, ada pula faktor yang bergerak ke arah sebaliknya, karena sebagian orang kaya kembali bergerak menuju Timur Tengah di tengah perang yang berlangsung di kawasan tersebut.

“Mobilitas bagi mereka bukanlah sebuah kemewahan, melainkan sebuah kebutuhan,” ujarnya. Data publik menunjukkan bahwa kekayaan mungkin bahkan lebih terkonsentrasi dibandingkan yang terlihat dari peringkat kota.

Kawasan Teluk San Francisco saja dilaporkan menjadi tempat tinggal bagi enam orang terkaya di dunia, yakni Musk, Zuckerberg, Ellison, Page, Brin, dan Huang. Jerman, yang memiliki PDB nominal terbesar ketiga di dunia, tetap tidak memiliki satu pun kota yang masuk dalam 15 besar.

Menurut Shaban, hal ini karena orang-orang kaya di Jerman lebih tersebar di seluruh negeri dibandingkan, misalnya, di Inggris, di mana 60 persen berada di London.

Pola yang sama juga terlihat dari tempat kelahiran para miliarder. Sekitar seperlima miliarder dunia lahir di tempat yang berbeda dari lokasi tempat mereka sekarang tinggal—Musk merupakan salah satu contoh yang jelas. Proporsi miliarder yang lahir di luar tempat tinggal mereka sekarang bahkan mencapai lebih dari 50 persen di Singapura dan London.

Transfer Kekayaan Besar-besaran di Kalangan Miliarder

Sebagaimana dunia saat ini berada di tengah periode Great Wealth Transfer atau transfer kekayaan besar-besaran lintas kelompok sosial-ekonomi, kelas miliarder juga akan mengalami proses serupa. Altrata memperkirakan para miliarder akan mengalihkan USD6,6 triliun kepada pasangan dan anak-anak mereka selama 10 tahun ke depan.

Jumlah tersebut diperkirakan akan terbagi di antara sekitar 5.000 orang, dengan sekitar 2.000 di antaranya merupakan pasangan.

“Dalam 10 tahun, jumlah itu bisa menjadi dua kali lipat,” kata Shaban. Namun, dia mengatakan bahwa meskipun akan muncul miliarder baru melalui kekayaan antargenerasi, jumlah yang lebih besar tetap akan berasal dari orang-orang yang membangun kekayaannya sendiri.

“Lebih dari 60 hingga 70 persen akan menjadi self-made,” imbuh dia. “Menurut kami, kontributor utama pertumbuhan di masa depan bukanlah [warisan]. Lebih kepada kewirausahaan.” “Miliarder secara harfiah merupakan kelompok yang sangat kecil dalam populasi dunia,” lanjutnya. “Mereka seperti jarum di tumpukan jerami.”

Bahkan kelompok dengan kekayaan USD30 juta atau lebih—yang oleh Altrata disebut “ultra-wealthy”—hanya berjumlah sekitar setengah juta orang di seluruh dunia. Namun, kemampuan untuk mencapai status jutawan dan tingkat kekayaan di atasnya telah menjadi lebih besar bagi semua orang.

Teknologi, perubahan regulasi, dan semakin luasnya peluang kewirausahaan membuat tingkat kekayaan tersebut lebih mudah dicapai dibandingkan satu generasi sebelumnya, meskipun tetap langka secara absolut.

Menurut perhitungan Altrata, populasi “ultra-wealthy” tumbuh sekitar tujuh kali lebih cepat dibandingkan populasi orang dewasa dunia selama periode 2005 hingga 2025. Shaban memperkirakan perubahan dalam kelompok tersebut akan semakin cepat.

Perkiraan internal Altrata yang belum dipublikasikan menunjukkan bahwa pada 2040, sekitar 70 persen populasi “ultra-wealthy” akan terdiri dari orang-orang yang saat ini belum termasuk dalam kelompok tersebut. “Itu hanya 15 tahun lagi,” katanya. “Jika Anda memiliki bank yang sudah berusia 300 tahun, 15 tahun bukanlah waktu yang berarti”.

(sumber: sindonews.com)

SultengTerkini

Kekayaan 3.795 Miliarder Dunia Capai Rp264.325 Triliun, Setara 1.154 Kali Anggaran MBG