Dampak Buruk Minimnya Ikatan Emosi Orangtua dan Anak

Ilustrasi

SultengTerkini.com – Perkembangan teknologi banyak membuat perubahan dalam kehidupan manusia di segala bidang. Tidak terkecuali dengan cara pengasuhan orangtua di era digital ini.

Telah banyak pakar yang menyatakan, bahwa kemajuan teknologi seperti gadget bisa berdampak buruk pada perkembangan anak. Namun, masih banyak orangtua yang justru membebaskan anak bermain gadget. Bahkan yang lebih miris lagi adalah orangtua yang lebih asyik dengan gadget ketimbang memperhatikan anak.

“Sebenarnya ada sebagian yang sudah teredukasi, anak-anak jangan dikasih gadget. Benar (anak) tidak dikasih gadget, tapi bukan berarti (itu) jadi meningkatkan interaksi dengan anak,” ujar Psikolog Anak, Annelia Sari Sani kepada VIVA.co.id.

Apa yang terjadi ketika anak diabaikan seperti itu? Anne menjelaskan, akan terjadi diskonektivitas atau disattachment antara orangtua dan anak. Tidak ada ikatan emosi antara orangtua dan anak karena minimnya kontak visual dan verbal.

Kemudian anak pun merasa kalau dia kalah penting dari gadget. Kalau gadget jatuh, orangtua merasa sedih, tapi ketika anak jatuh malah ditegur bahkan dimarahi. Jadi, pesan yang ditangkap anak adalah gadget lebih penting dari dirinya.

“Yang paling berbahaya adalah dia meniru pola mengasuh orangtuanya terhadap anaknya dia. Maka problem itu akan berulang, itu yang paling bahaya,” ujar Anne.

Hal ini disebabkan anak tidak punya pengalaman relasi, bonding (ikatan), dan attachment (kedekatan) yang baik dengan orangtuanya. Pada akhirnya, dia juga menjadi gagap saat membangun attachment dengan anak.

Attachment atau bonding, imbuh Anne, adalah dasar untuk berbagai keterampilan anak yang lebih tinggi. Attachment adalah dasar untuk anak memiliki keterampilan sosial.

Kalau tidak pernah punya attachment yang aman dengan orangtua maka anak tidak akan punya kepercayaan kepada orang lain. Kalau anak tidak percaya akan sulit bersosialisasi.

Lalu, attachment itu juga dasar dari belajar. Karena jalur otak yang mengurusi attachment dan masalah belajar itu sama. Hanya dari masalah attachment, masalah relasi orangtua-anak, dampaknya bisa meluas.

“Dia tidak pernah punya pengalaman kepercayaan terhadap orang lain. Ini bisa bermasalah ketika dia sekolah, dia bisa tidak mempercayai gurunya. Kalau dia tidak percaya dengan gurunya, bagaimana dia bisa menyerap informasi yang diberikan gurunya?” ujarnya.

(Sumber: VIVA)

Komentar