PALU– Pihak Pewarta Foto Indonesia (PFI) tengah menyiapkan pameran foto jurnalistik bertajuk ‘Asa di Atas Patahan’ untuk mengenang tujuh tahun peristiwa gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu.
Pameran foto tersebut direncanakan digelar pada 15-18 September 2025 mendatang di Palu Grand Mall (PGM). Ketua PFI Palu, Muhammad Rifki mengatakan, pameran foto jurnalistik terbuka bagi siapa saja yang ingin memamerkan karyanya dalam pemeran tersebut.
“Jadi pameran foto jurnalistik ini terbuka untuk umum, selain intern PFI Palu, juga secara khusus mengundang seluruh pewarta foto baik itu di dalam maupun luar negeri sekaligus para penggiat fotografi untuk mengirimkan karyanya melalui alamat email palu.pfi@gmail.com,” ujar Rifki di Palu, Rabu (20/8/2025).
Rifki menjelaskan, pameran foto jurnalistik tersebut tidak bersifat komersil, melainkan partisipatif dari para pemilik karya.
Namun, apabila selama masa pameran tersebut terdapat karya-karya yang diminati oleh para pengunjung, pihak PFI akan menghubungkan langsung terhadap pemilik karya sebagai pemegang hak cipta dari sebuah karya foto.
Dia juga menyampaikan setiap para peserta yang mengirimkan karya tidak akan dipungut biaya apapun atau gratis, justru pihaknya akan melakukan kurasi terhadap foto-foto yang akan dipamerkan.
“Karena memang kita memiliki ruang dan pembiayaan terbatas. Jadi seluruh karya yang masuk itu akan melalui proses kurasi terutama dari segi kesesuaian tema pameran oleh tim kurator PFI Palu diantaranya adalah Pewarta Foto Senior Basri Marzuki dan Zainuddin MN,” tuturnya.
Adapun frasa ‘Asa di Atas Patahan’ akan menjadi jiwa dari pameran tersebut. Sebab menggambarkan sebuah proses, kesabaran dalam membangun kembali kehidupan.
Sekaligus kata Rifki, untuk menyiratkan kepada seluruh masyarakat Palu, Sigi dan Donggala serta Sulteng secara umum agar membangun masa depan dengan kesadaran penuh akan risiko sebagai sebuah simbol ketangguhan dan mitigasi.
“Karena memang pameran ini bukan sekadar mengenang duka, melainkan menjadi sebuah simbol ketangguhan jiwa manusia, kekuatan gotong doyong dan visi untuk masa depan Pasigala (Palu, Sigi, dan Donggala) yang lebih siap dan lebih kuat,” tuturnya. CAL











Komentar